“Saya Wartawan, Bukan Wisatawan..”

dsc_0663“Mau ke mana lagi nih?”

“Enak ya kerjaannya jalan-jalan terus..Gratis lagi.”

“Gue pengen deh kerja kaya lo. Liburan terus,”

“Perasaan kemarin lo abis jalan-jalan deh, kok sekarang jalan lagi?”

***

Seperti itulah kalimat-kalimat itu kerap mampir saat sedang bersua dengan teman baru-baru ini. Baik itu teman yang dekat, maupun teman yang lama tak menampakkan batang hidungnya. Semua kalimat itu mencecar dan harus dijawab.

“Yah, enak gak enak sih. Tapi ya jalanin aja,” ucap saya menanggapi beberapa pertanyaan itu.

Memang serba salah ketika hanya melihat saya dari media sosial. Aktivitas layaknya wisatawan yang sedang bervakansi memang saya rasakan. Pemandangan gunung-gunung, laut, bukit-bukit, bahkan aneka ragam acara kebudayaan bisa saya lihat. Terkadang saya unggah ke media sosial.

Itu yang terlihat.

Oh ya, nama pekerjaan saya adalah wartawan. Lebih khusus lagi, saya menulis tentang pariwisata atau istilah kerennya “Travel Journalist“. Ruang lingkupnya mulai dari berita-berita tentang wisata alam, budaya, buatan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Saya juga turut menulis berita-berita terkait pemerintah. Di sini, saya bekerja di untuk perusahaan media daring atau online bernama PT. Kompas Cyber Media atau lazim dikenal dengan nama Kompas.com.

Dengan begitu, seringkali tempat saya mendapatkan undangan liputan untuk pergi keluar kota bahkan keluar negeri dari instansi-instansi pariwisata. Seketika tanggung jawab atas tugas-tugas saya langsung saya panggul. Iya, saya bekerja bukan jalan-jalan.

Sudah, hampir dua tahun saya menjadi “Travel Journalist”. Seumur jagung ini, hanya sedikit pengalaman yang baru saya alami. Tapi sedikitnya bisa menjawab tentang anggapan tentang bagaimana pekerjaan “Travel Journalist”.

***

dsc_0068Saya wartawan, bukan wisatawan.

Kalau masih bingung dengan arti wisata, coba tengok arti kata dari Kamus Besar Bahasa Inggris. Wisata berarti bepergian bersama-sama baik untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dan sebagainya. Istilah lainnya yang sama dengan wisata seperti tamaysa atau piknik.

Jika sedang wisata, saya mungkin bisa bersantai sejenak menikmati suasana. Saya bisa melihat-melihat mungkin bahkan tanpa harus sibuk memegang gawai. Bisa dengan santai tak perlu memperbaharui informasi. Saya selalu ingat kata rekan kerja saya, “Kamu itu kerja, bukan jalan-jalan,”.

Realitanya, di tempat liputan yang dalam hal ini di obyek wisata, sejauh ini saya tak bisa bersantai layaknya wisatawan. Jangan bayangkan saya bisa tiduran berjemur di pantai, jalan santai melenggang tanpa perbincangan yang bisa dipertanggungjawabkan, atau bahkan membidik lensa ke sudut-sudut yang sering dianggap orang sebagai “nirwana”.

Ketika panas matahari menghadang, arahan dari editor tetap harus dijalankan. Semua sudut pandang harus diselami. Tak ada rumusnya, saya berpendapat secara lugas dalam tulisan. Saya mesti kroscek ke kiri, kanan, depan, dan belakang demi informasi yang terpercaya.

Lalu kalau sudah begitu, dari sudut pandang mana saya bisa pergi berwisata layaknya wisatawan?

_mg_6622

Tentu saat bekerja, sebagai seorang karyawan yang dibayar, saya mesti mencapai target yang ditetapkan. Target saya sendiri empat tulisan per hari. Iya, betul. Empat tulisan per hari. Belum lagi, di saat yang bersamaan harus membekukan momen. Silahkan dibayangkan bagaimana bisa berwisata dengan hati yang damai dan tenteram.

Belum lagi, jika narasumber untuk menolak untuk diwawancarai. Diacuhkan bak tengah menawarkan barang. Menunggu untuk bisa mewawancarai, atau bahkan berpacu dengan waktu liputan yang sempit. Atau, mengejar narasumber yang sangat sulit dihubungi.

Wartawan bertugas sebagai pemberi informasi dan tentu mencerahkan pembaca. Bayangkan, waktu liputan yang sempit tapi harus menghasilkan tulisan. Saya harus ekstra menempatkan strategi untuk mendapatkan informasi.

Belum lagi, saya pernah ditinggal rombongan karena saya terlalu lama wawancara narasumber. Ada lagi pengalaman diminta untuk memandu wartawan-wartawan mancanegara untuk pergi berwisata. Atau, terasingkan ketika harus memisahkan diri dari rombongan demi satu sudut pandang yang lebih menarik.

Pengalaman-pengalaman lain seperti tentang istilah “amplop” atau “jale” untuk wartawan. Ini yang menarik juga. Saat bekerja ini saya berada di dua sisi mata uang. Sisi pertama untuk menjaga hubungan dan menghargai pihak kedua maupun ketiga selaku pengundang, di sisi lain, saya tak boleh menerima “amplop” atau “jale”. Itu pengalaman di tempat wisata yang nyata saya alami. Ah, menantang bukan?

_mg_4907Yang berkembang saat ini, memang pekerjaan “Travel Journalist” ini bak impian semua orang. Itu dari hasil dari pengalaman saya bertemu dengan beberapa orang. Namun, benar memang jarang yang ingin menyelami lebih dalam terkait pekerjaan ini. Istilahnya, hanya tahu tentang jalan-jalan saja.

Tentu sebagai wartawan perjalanan, energi yang dibutuhkan sangat besar. Saya dituntut punya stamina yang baik. Berwisata saja sudah membutuhkan energi yang besar. Ditambah bekerja, sudah tentu butuh lebih. Medan liputan pun variatif seperti di dinginnya ruangan sampai terik matahari terbuka. Seringkali juga harus berkejaran dengan deadline hingga kurang tidur. Inikah berwisata?

Sedikit itu gambaran-gambaran tentang penugasan liputan di tempat wisata begitu berbeda dengan istilah berwisata. Saya pun sendiri tak selalu pergi keluar kota. Teman-teman di luar sana juga saya yakni lebih hebat dalam melakukan perjalanan.

Saya memang cukup beruntung berlatarbelakang dari sebuah organisasi mahasiswa pencinta alam. Urusan kaki menjejak di licinnya tanah dan batuan sudah pernah saya rasakan. Ketatnya dalam penulisan laporan perjalanan pada masa itu banyak membantu saya dalam beradaptasi dalam urusan petualangan maupun plesiran hingga tuntutan lain.

Peribahasa “Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau” memang benar. Penilaian hanya dari sisi luar. Namun, saya bersyukur bisa bekerja sebagai “Travel Journalist”. Saya bisa bertemu dengan banyak orang dan tentu belajar dari mereka.

Salam.

 

5 thoughts on ““Saya Wartawan, Bukan Wisatawan..”

  1. Saya punya beberapa teman reporter dan pernah beberapa kali kunjungan perusahaan ke kantor media. Aduh, benar-benar harus dapat diandalkan 24/7 ya. Nggak cuma sekadar ngikut perintah dari redaksi, tapi juga putar otak untuk dapetin data (contohnya seperti yang dikatakan: mengejar narasumber). Saya selalu kagum sama temen-temen reporter dan wartawan

    • Halo Prita. Trims udah mampir. Memang begitu realitanya. Untuk buat satu tulisan aja harus dilikir berulang kali. hehe . Apalagi utk nambah referensi dr narasumber yg sifatnya investigasi. Luar biasa lah. Hehe makasih ya udh mampir. Btw kuliah di arkeologi UI?

  2. Hahaha sejenis, Mas.. Jangankan wartawan travel, wartawan ‘standar’ aja suka dibilang “Enak ya kerjanya jalan-jalan terus”. Paling dijawabnya “Iya, jalan-jalan ke DPR, KPK, istana, liat demo. Yuk ikut”. Mungkin karena sebagian orang ga gau hal-hal yang kita lakuin di belakang hasil kerjaan jurnalis ya.. Hehe..

    Salam kenal, Mas. Iyos, dari KompasTV😀

  3. Curhat seorang wartawan hahaha. Menarik tulisanmu, biar teman yang suka sirik mengira dirimu jalan-jalan gratis jadi tahu kalau itu kerja untuk perusahaan, bukan piknik.😀
    Btw cerita “jale” nggak ada niat untuk ditulis khusus? #kepo hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s