Pesona Lebaran yang Pudar

Bersama teman baru sesaat setelah bertugas di Karimun Jawa pada hari kedua Lebaran tahun 2015

Bersama teman baru sesaat setelah bertugas di Karimun Jawa pada hari kedua Lebaran tahun 2015

Tiga puluh menit dari stasiun ke arah selatan, pada sebuah desa kecil dekat Sungai Bogowonto, saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya. Sentuhan tangan kakek dan nenek serta adik-adik ibu kerap teringat saat saya melihat bingkai-bingkai foto yang terpajang di rumah. Ya, ketika masih berusia enam bulan, saya dititipkan oleh orang tua untuk dibesarkan oleh sepasang manusia yang telah melahirkan ibu saya. Nama desa yang menjadi kampung halaman saya adalah Kutoarjo. Sebuah desa di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah yang berjarak sekitar satu jam ke barat dari Yogyakarta.

Sebulan sebelum Hari Raya Idul Fitri 1436 H saya telah merencanakan untuk kembali menyambangi tempat saya dibesarkan. Walaupun hanya dua tahun lamanya saya tinggal di Kutoarjo. Saya telah memesan tiket Kereta Api Bogowonto untuk dua orang. Dua tiket tersebut untuk saya serta sang ibu pada dua hari menjelang Lebaran. Dapat dibayangkan, orang-orang dari ibukota Jakarta akan berbondong-bondong kembali ke tanah kelahirannya demi berkumpul dengan keluarga tercinta. Namun saya hanya ingin bertemu dengan kakek dan nenek saya walaupun hanya tinggal nama yang tertulis di nisan.

“Bu, nanti kita pulang bawa apa ya? tanya saya kepada ibu.

“Ya, bawa aja baju nanti buat si Pulung,” jawab ibu saya.

Sekelumit asa untuk bertemu dengan sepupu saya, Pulung sudah terbesit di kepala. Di depan rumah kakek dan nenek saya mengalir sebuah sungai kecil yang nantinya akan bergabung di Sungai Bogowonto dan bermuara di Laut Selatan Pulau Jawa. Laut yang konon banyak memakan korban jika ada wisatawan yang berbaju hijau. Saya sudah membayangkan akan bermain di atas pasir hitam dengan suara deburan ombak laut yang bergulung-gulung. Juga berkejaran bersama sepupu-sepupu yang tercinta. Biasanya pada tahun-tahun sebelumnya, saya bersepeda bersama sepupu menuju ke pantai. Sekitar tiga puluh menit jika bersepeda dari sebuah desa kecil yang juga berada di dekat Pasar Grabag.

Pesona Lebaran di kampung halaman terlanjur memesona saya setiap tahun. Suara takbir kerap terdengar. Khutbah-khutbah dalam bahasa Jawa Kromo Inggil atau halus menjadi pengantar salat Idul Fitri. Orang-orang di Desa Grabag akan keluar pada pagi hari menuju arah timur di bawah rerimbunan pohon. Semua orang akan bersalaman.

“Nyuwun Pangapunten (saya minta maaf),” bayang saya dalam bahasa Jawa saat berjalan menuju masjid.

Keriuhan yakni jabat tangan dan mencium tangan orang-orang tua akan saya lakukan. Sungkem dengan adik-adik ibu saya. Satu orang perempuan dan laki-laki. Ibu saya anak kedua, sedangkan kakak dari ibu saya, laki-laki berada di Medan menjadi polisi. Oh ya, adik bungsu dari ibu saya juga seorang polisi. Biasanya, tradisi sungkem dilakukan di rumah utama di kampung saya. Rumah yang berbentuk joglo dengan lima kamar di dalamnya. Rumah itu juga yang menjadi saksi ikatan janji suci bapak dan ibu saya. Betul, pernikahan yang dulu sekitar hampir 30 tahun yang lalu. Duduk berjajar di ruang tamu rumah joglo tempat kakek dan nenek saya terkasih.

Pulau Karimun Jawa dengan laut biru.

Pulau Karimun Jawa dengan laut biru.

Setelah, sungkem dengan para saudara, biasanya saya dan para saudara akan berangkat menuju pusat kabupaten. Kami akan menyantap kuliner baso dan dengan es dawet khas Kutoarjo. Gurih kuah bakso kampung halaman sangat terasa berbeda dengan bakso yang dijual di kota megapolitan Jakarta. Berbeda karena disajikan di kampung halaman. Sementara telah terbayang, dinginnya es dawet dan manisnya gula jawa yang banyak dihasilkan di Kabupaten Purworejo. Harga semangkuk bakso biasanya kami pesan seharga Rp8.000 dan es dawet seharga Rp3.000. Harga yang murah bagi warga pada provinsi DKI Jakarta.

Lima menjelang keberangkatan, pesona Lebaran yang telah saya bayangkan pudar. Saya mendapatkan penugasan ke luar kota dan terpaksa menghapuskan pesona Lebaran yang telah terbayang. Tujuan perjalanan saya adalah Taman Nasional Karimun Jawa. Saya bertugas untuk meliput paket perjalanan dari PT Pelni yang bertajuk “Let’s Go Karimun Jawa”. Sempat rasa kecewa terpapar di depan mata saya. Sementara, teman-teman yang lain dalam Photo Kontes Instagram #PesonaLebaran telah mulai mengunggah foto-foto momen-momen Lebaran pada saat saya berada di atas kapal laut pada hari kedua Lebaran. Saya rindu kampung halaman. Foto-foto Instagram yang diunggah tersebut membuat saya kian merindu. Saya justru merayakan Pesona Lebaran dengan teman-teman yang menjadi keluarga baru saya.

Jika kamu punya foto-foto saat momen-momen merayakan Pesona Lebaran,sobat traveler dapat mengikuti kontes foto Instagram dari Indonesia.travel. Yuk, mencoba Kontes Foto Instragram dengan menuliskan atau mencantumkan hashtag #PesonaLebaran.

 

 

 

 

 

One thought on “Pesona Lebaran yang Pudar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s