Bersepeda Depok –Surabaya: Etape 5 Kembali Ke Kampung Halaman

Si Sepeda Hitam telah siap menyusuri Jalur Selatan Pulau Jawa. Kampung halaman menunggu. Melepas kangen dengan sanak saudara.

BikeVenture, UPL MPA Unsoed, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Purwokerto, Kutoarjo, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Jalur perkiraan Etape 5 berdasarkan Google Maps. Purwokerto – Kutoarjo. Sumber: Google Maps.

Setelah dua hari berada di Purwokerto, Selasa (6/1/2015) pagi, Si Sepeda Hitam harus beranjak tempat persinggahan. Sudah harus keluar dari kota yang terkenal dengan tempe mendoannya ini. Awal dari perjalanan menuju kampung halaman yaitu Grabag, Kutoarjo disambut dengan pagi yang cerah. Gunung Slamet terlihat gagah. Gunung yang sempat erupsi tahun lalu ini, melepas kepergian saya. Juga teman-teman dari UPL MPA Unsoed yang baik hati ikut juga.

Udara di hari kerja ini cukup sejuk. Pengendaranya juga taat lalu lintas. Jangan harap suasana ini ada di Kota Jakarta. Sudah pasti para raja jalanan ibukota akan berebut untuk mengisi jalan yang kosong. Bahkan garis batas berhenti pasti akan dilampaui. Tak segan-segan juga lampu merah akan diterobos. Petugas polisi tak berdaya melihatnya. Namun terkadang pengendara yang sial akan terkena tilang. Begitulah sekilas perbedaan antara di Jakarta dan di luar Jakarta.

Dari Sekretariat UPL MPA Unsoed, saya bergerak ke selatan. Patokan untuk berbelok adalah lampu lalu lintas keempat. Kemudian berbelok kembali ke arah Rumah Sakit Margono. Kecamatan Mersi terlewati. Sepanjang jalan, Gethuk Sokaraja menjadi primadona kuliner yang ditawarkan di Kabupaten Banyumas. Masing-masing penjual gethuk menjadi merek yang dijual. Namun saya tak sempat mencoba salah satu oleh-oleh andalan Banyumas ini.

Di sebuah percabangan jalan menuju Kecamatan Buntu, saya berbelok ke kiri. Sebenarnya ada pilihan untuk lurus tapi medan yang dilewati akan sangat menanjak. Menurut informasi tambahan dari seorang tukang becak, jalur itu melewati sebuah pabrik gula dan perbukitan. Nantinya jalan itu akan tembus di Jalur Cilacap – Jogja. Sebenarnya jalur yang berbelok kiri juga akan berbelok tapi tidak separah jika mengambil jalan potong lurus. Tanjakan Buntu telah terkenal yang cukup sulit.

BikeVenture, UPL MPA Unsoed, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Purwokerto, Kutoarjo, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Tanjakan pertama Buntu. Sebelum melanjutkan tanjakan berikutnya, saya berhenti untuk beristirahat.

Awal tanjakan cukup menantang. Kemiringan jalan sekitar 20 derajat. Gigi sepeda diturunkan. Gigi depan diturunkan menjadi 34 mata sedangkan gigi belakang, diturunkan menjadi 26 mata. Dengan rasio perbandingan tersebut tanjakan pertama dapat terlewati. Namun sambutan ini membuat saya harus beristirahat setelah satu jam mengayuh sejak dimulai dari pukul 08.30 WIB. Saya berhenti di pinggir jalan.

Seteguk air dari botol, saya minum. Sambil istirahat, saya bakar sebatang rokok. Namun karena saya tak memiliki korek api, saya meminjam dari seorang kakek yang sedang memotong bambu dengan goloknya di depan rumah tempat saya berhenti. “Permisi pak, pinjam korek ada?” sapa saya kepada kakek yang berumur kira-kira 69 tahun ini. “Ada dek. Di atas bangku.” jawabnya sambil menuju arah bangku. Dia berhenti memotong bambu dan segera melinting tembakau menggunakan kertas rokok. Kemudian terjadi sebuah perbincangan seperti biasanya kalau saya bertemu dengan orang.

“Mau kemana dik?” tanya dia sambil memilin tembakau

“ke Surabaya pak” jawab saya sambil memantik rokok.

“Dari mana? Sendirian?” tanya kembali sang kakek.

“Iya pak. Dari Depok” jawab saya kembali sambil menghisap rokok.

“Minum dek. Udah sarapan belum? tanya seorang ibu yang keluar dari rumah sambil membawa sebotol air putih.

“terima kasih bu. Sudah kok di Purwokerto” jawab saya sambil tersenyum.

Perbincangan tersebut terus berlangsung sampai rokok saya habis. Obrolan ini pasti berulang ketika saya berhenti dan bertemu orang di jalan. Keramahan orang-orang yang saya temui di jalan menjadi obat bagi perjalanan ini. Rasanya setiap orang yang saya temui ini bagaikan keluarga. Kemudian saya pamit untuk melanjutkan perjalanan. Kata “hati-hati” selalu menjadi doa di akhir perbincangan.

Tanjakan kedua semakin terjal. Kemiringan bertambah 10 derajat. Peluh mulai bercucuran. Matahari semakin menunjukkan tajinya. Kendaraan yang melewati jalur ini juga menurunkan gigi hingga posisi terendah. Bus-bus sekarang didominasi dengan tujuan Purwokerto – Kebumen. Ukuran busnya sama seperti yang saya gunakan ketika menuju Purwokerto dari Tegal. Asap hitam dari knalpot memenuhi jalan. Sangat mengganggu. Untungnya saya menggunakan penutup wajah. Sedikit berkurang siksaanya.

Tidak semua tanjakan di Buntu ini saya lewati di atas sadel sepeda. Terkadang saya harus turun untuk menuntun sepeda. Tanjakan-tanjakan ini cukup berat. Walaupun tak separah tanjakan di Jalan Raya Puncak, Jawa Barat, ini adalah tantangan tersendiri bagi saya. Demi efisiensi tenaga, saya harus mengalah dari tanjakan ini. Betis terkadang hampir kram dibuatnya. Panas matahari luar biasa bersinar. Polusi udara. Lengkap sudah. Kombinasi lengkap ujian ini.

BikeVenture, UPL MPA Unsoed, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Purwokerto, Kutoarjo, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Akhir Tanjakan Buntu di Hutan Karet Krumput. Di pinggir jalan ini banyak orang-orang yang menunggu pengendara melempar koin.

Di pinggir tanjakan Jalan Buntu, wangi durian tercium. Di kiri-kanan jalan banyak yang menjajakan durian. Terang saja, di kiri dan kanan, setiap pekarangan rumah pun tumbuh pohon durian. Namun lagi-lagi tak ada kesempatan untuk mencicipi durian Buntu. Di otak hanya teringat untuk segera mencapai akhir dari tanjakan nestapa ini. Tanda akhir tanjakan ini adalah pohon jati yang ada di kiri dan kanan jalan. Dari tempat saya berhenti dan berbincang-bincang dengan seorang kakek berjarak sekitar 4 km.

Setelah hampir satu jam lebih berjuang dengan tanjakan Buntu, akhirnya saya tiba di Hutan Karet Krumput. Sejenak saya berfoto. Setelah ini jalan akan cenderung turun. Bahkan sangat tajam.Kecepatan sepeda akan mencapai 40 km/jam jika tidak dikurangi kecepatan. Turunan pertama didominasi oleh orang-orang tua yang duduk di pinggir jalan. Beberapa sudah lanjut usia. Menurut cerita yang beredar, rute Hutan Karet Krumput ini minim penerangan jika malam hari. Selain itu karena jalan yang menanjak dan berkelok-kelok, biasanya pengendara akan menyalip. Hal tersebut yang rawan menyebabkan kecelakaan. Maka ada satu kepercayaan bagi para pengendara untuk membuang koin tanda upeti bagi “sang penunggu jalan“.  Orang-orang tua tersebut memanfaatkan untuk menunggu koin tersebut. 

BikeVenture, UPL MPA Unsoed, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Purwokerto, Kutoarjo, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Persimpangan jalan menuju Goa Maria via Jalur Kaliori.

Kaki sejenak berhenti beraktifitas. Kini tangan yang harus sigap memainkan rem. Jalan berkelok-kelok turun tajam.  Di setiap sudut jalan selalu terdapat peringatan “Awas Turunan Tajam”, “Sering Tejadi Kecelakaan”, dan “Kurangi Kecepatan Sekarang”. Kewaspadaan ditingkatkan. Lengah sedikit, saya akan terpental. Walaupun tidak mengayuh, tetap saja turunan ini membuat saya sedikit was-was. Lima menit kaki beristirahat, jalanan kembali datar. Urusan kayuh-mengayuh dilanjutkan.

BikeVenture, UPL MPA Unsoed, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Purwokerto, Kutoarjo, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Gapura selamat datang Kebumen. Si Sepeda Hitam memasuki Kebumen sekitar pukul 14.00 WIB.

Pertigaan besar di depan mata. Ke kiri ke arah Kebumen, sementara ke kanan ke arah Cilacap. Gethuk-gethuk masih banyak dijajakan. Sebentar lagi akan berganti Kabupaten Kebumen. Saya meninggalkan Kabupaten Banyumas pada pukul 11.15 WIB. Istirahat siang sebentar lagi. Setelah mencicipi aspal Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Kebumen yang tak begitu mulus, tepat pukul 12.00 WIB saya berhenti di depan Masjid Baiturrahman, di Kecamatan Tambak. Waktu makan siang tiba. Saya santap kuliner khas Kecamatan Tambak yaitu Sate Bebek. Cukup Rp. 23.000 untuk seporsi nasi, 10 tusuk sate bebek, sop bebek, dan es jeruk.

BikeVenture, UPL MPA Unsoed, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Purwokerto, Kutoarjo, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Seporsi nasi bebek yang dijual di depan Masjid Baiturrahman, Kecamatan Tambak, Banyumas. Jika melewati Kecamatan Tambak, jangan lupa menyantap kuliner ini.

Istirahat siang ini seperti biasa. Sholat, makan, dan meluruskan kaki sejenak. Istirahat kali ini lebih lama dari biasanya. Satu setengah jam. Saya kembali melanjutkan perjalanan. Bosan dengan perjalanan yang didominasi bus-bus, saya kali ini akan mengambil rute alternatif menuju Grabag, Kutoarjo. Rute yang saya tempuh adalah melewati pantai selatan. Pantai Suwuk akan menjadi pemberhentian sementara. Jarak dari Jalan Raya Gombong – Purworejo menuju Pantai Suwuk sekitar 21 km.

Saya berbelok meninggalkan jalan utama. Asap-asap dari knalpot bus-bus berganti menjadi udara segar khas pedesaan. Kiri dan kanan hanya sawah. Di depan bukit menjulang tinggi. Bukit-bukit tersebut merupakan kawasan karst Pacitan yang memanjang dari Kebumen sampai Pacitan. Di sana banyak gua-gua yang biasa dijelajahi oleh kelompok pencinta alam maupun wisatawan minat khusus. Hampir satu jam lebih saya mengayuh, saya pun tiba di Pantai Suwuk.

Di Pantai Suwuk ini jika ingin mampir cukup membayar tiket seharga Rp. 3.500. Jika membawa sepeda motor harus merogoh kocek lagi sebesar Rp 3.000. Di pantai ini, pemandangan yang ditawarkan adalah Laut Selatan Pulau Jawa, perbukitan yang menghampar di sebelah barat, Pantai Karang Bolong, dan kuliner di pinggir pantai. Kuliner di sini tergolong murah. Misalnya untuk Segelas es jeruk hanya cukup membayar Rp. 3.000 , sementara untuk mie instan menggunakan telur, cukup mengeluarkan uang Rp. 5.000.

Matahari semakin bergerak menuju timur. Saya harus kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju Desa Grabag, Kutoarjo masih sekitar 70 km. Dengan perkiraan kecepatan rata-rata saya bersepeda 16 km/jam, saya akan tiba malam hari sekitar pukul 20.00 WIB. Saya terpaksa memilih target tempat dibandingkan target waktu. Pada perencanaan, ketika waktu memasuki magrib, saya harus menghentikan perjalanan. Saya memang menghindari perjalanan malam hari. Namun kali ini pengecualian saya buat. Saya harus tiba di kampung halaman saya hari ini.

Yang saya sedikit heran ketika melewati pantai selatan di Kabupaten Kebumen ini adalah waktu sholat Ashar yang berbeda. Adzan Ashar berkumandang pukul 16.30 WIB. Entah kenapa. Sejak saya meninggalkan Pantai Suwuk pukul 15.30 WIB, saya belum mendengar adzan berkumandang. Pada akhirnya saya berhenti di sebuah mushala yang ada di pinggir sawah yang menjadi dominasi selain kebun jagung.

Di sore hari, masyarakat Kabupaten Kebumen yang ada di jalur Jogja – Cilacap ini, banyak yang keluar untuk memancing ikan di aliran sungai kecil. Tua, muda, dan anak-anak memiliki pancingannya masing-masing. Mulai dari pancingan dati sebuah ranting pohon hingga pancingan yang memiliki alat pemutar jika umpannya tersambar. Di sudut pinggir sawah lainnya, ada juga yang berkutat dengan burung dara. Semua tampak menikmati sore hari. Kesenangan itu terlihat sangat sederhana.

Semburat jingga matahari mulai mewarnai langit. Keindahannya hanya sesaat. Kini keindahan itu sirna berganti ketakutan. Ya, ketakutan untuk melintas malam hari. Rasa takut ini harus saya lawan. Sudah hampir 50 km saya tempuh dari Pantai Suwuk. Kini, setelah istirahat dan sholat maghrib di sebelum kecamatan Buluspesantren, saya menempuh perjalanan malam. Pengalaman pertama menjelajah daerah sepi yang belum saya ketahui medannya. Alat penerangan yaitu headlamp menjadi satu-satunya andalan saya.

Masih tiga kecamatan lagi untuk meninggalkan Kabupaten Kebumen dan memasuki Kabupaten Purworejo. Kecamatan itu adalah Buluspesantren, Ambal, dan Mirit. Perjalanan sangat sulit. Jalan yang bergelombang dan rusak menjadi hambatan. Tak jarang, ban sepeda menghantam lubang. Saya takut kejadian di Losari terulang. Apalagi daerah yang saya lewati tergolong sepi. Warga hanya banyak tinggal di sekitar pusat kecamatan. Namun saya tetap menatap ke depan. Perjalanan ini harus dihadapi.

Di sebuah warung saya berhenti. Setelah menghadapi jalan rusak dan gelapnya malam, sejenak saya beristirahat. Saya memastikan kembali jarak yang saya tempuh. “Mas, ke Ketawang masih jauh?” tanya saya ke penjual warung. “Udah deket kok dek. Nanti lewat jalan potong aja yang tembus ke Terminal Ketawang. 100 meter dari sini belok kiri, ketemu pertigaan belok kanan lalu lurus terus sampai terminal” jawabnya. Penjelasan tersebut langsung saya telan. Saya tahu jalan itu. Pria itu juga menambahkan bahwa jalan yang dilewati mulus. Sekitar 9 km lagi sampai ke Desa Grabag.

Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Roda kembali bergulir. Dinginnya malam menerjang. Namun tak menusuk tulang seperti yang dirasakan ketika naik gunung. Hanya udara malam pedesaan yang berhembus menembus kaus yang saya gunakan. Jalan kadang berkelok. Di kiri terhampar sawah. Sang dewi malam malu-malu mengintip. Samar-samar di balik awan. Kecantikannya tak dapat terlihat secara utuh. Baru pertama kali sang dewi malam dapat saya lihat dari atas sepeda. Sebentar lagi kecantikannya akan terhalang atap rumah almarhum kakek dan nenek saya.

BikeVenture, UPL MPA Unsoed, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Purwokerto, Kutoarjo, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Beristirahat di rumah nenek, Desa Grabag, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo.

Benar saja, 30 menit kemudian saya tiba di Terminal Ketawang. Sekarang tinggal lurus ke utara untuk sampai ke rumah di mana ibu saya dilahirkan. Patokannya adalah Pasar Grabag yang timur jalan. Dari sana hanya berjarak 400 meter. Kemudi sepeda saya belokkan ke kiri di Jalan Malangrejo IV. Melewati sungai kecil buatan tempat biasa saya main dulu kalau pulang ke kampung halaman. Namun sejak beranjak besar, tak lagi saya main di sana. Baru dua bulan yang lalu saya menginjakkan kaki di Desa Grabag. Saat ini saya kembali ke tempat saya dibesarkan oleh almarhum kakek dan nenek saya sejak umur 1 tahun hingga 2.5 tahun. Berada di sini seperti memutar kenangan itu. Perjalanan menuju Yogyakarta akan dilanjutkan pada hari Kamis, 8 Januari 2015. Selamat malam.

12 thoughts on “Bersepeda Depok –Surabaya: Etape 5 Kembali Ke Kampung Halaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s