Bersepeda Depok – Surabaya: Etape 2 Ganasnya Jalur Pantura

Bus-bus dan mobil-mobil saling berkejaran. Hembusan anginnya serasa ingin menjatuhkan. Tak jarang jarak antara sepeda dan kendaraan hanya tiga meter. Ditambah lagi teriknya matahari. Sungguh ganas.

BikeVenture, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Karawang, Indramayu, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Jalur perkiraan Etape 1 berdasarkan Google Maps. Karawang – Indramayu. Sumber: Google Maps.

Karawang pagi hari cerah. Matahari menampakkan diri. Malam tahun baru 2015 saya lewati dengan beristirahat. Namun waktu istirahat saya tak mulus. Sepertinya para nyamuk Karawang menemukan teman barunya. Tak henti-hentinya mereka mencumbu setiap lekuk tubuh. Ah jahatnya. Padahal pada hari pertama di tahun 2015 ini saya akan melewati jalur yang terkenal dengan tingkat kecelakaan yang tinggi.

Setelah sarapan bersama para anggota Mapalaska (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Singaperbangsa Karawang), saya melanjutkan perjalanan. Segera meninggalkan kampus yang singgahi menuju Jalan Raya Klari, jalan raya yang cukup besar untuk menuju Cikampek. Lalu lintas belum terlalu ramai. Bus-bus garang belum menampakkan taringnya. Awalan yang baik sebelum memasuki Jalur Pantura (Pantai Utara Jawa).

BikeVenture, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Karawang, Indramayu, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Cirebon 167 KM, Semarang 369 KM, Surabaya 674 KM.

Memasuki Cikampek, pertarungan dimulai. Walaupun jalan aspal dan bergelombang, medan ini memuluskan laju roda ban sepeda saya yang berukuran 26 x 1.30. Namun di sisi lain cukup menghambat perjalanan. Di otak saya hanya terbesit bus-bus dan mobil-mobil yang memacu laju kendaraannya hampir 100 km/jam. Belum lagi jika si kendaraan besi itu menyalip dari kiri jalan. Kewaspadaan maksimal. Setiap kayuhan pedal saya selalu berdoa agar selamat melewati jalur ini.

Kabupaten pertama yang saya masuki setelah Cikampek adalah Subang. Teringat tahun lalu pada bulan Februari 2014, saya bersama Mapala UI membantu korban banjir.  Saya menyempatkan beristirahat di Polsek Patok Besi, Subang untuk beristirahat dan mengembalikan mental setelah 18 km berada di awal Jalur Pantura. Tempat yang menjadi posko bantuan banjir ini tak banyak berubah. Namun kali saya datang naik sepeda. Lebih melelahkan dan mengerikan.

BikeVenture, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Karawang, Indramayu, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Memasuki Pamanukan. Bus-bus di sini memacu kendaraannya dengan kencang. Sangat berbahaya.

Bus-bus tujuan Kuningan mendominasi Jalur Pantura. Luragung dan Setia Negara menguasai jalan. Bus Setia Negara yang berwarna jingga tersebut seperti tak mau mengalah jika didahului oleh kendaraan lain. Klakson dan mendahului lagi. Sempat saya hampir terserempet di daerah Pamanukan. Sepeda saya hanya berjarak empat meter dari badan bus. Sangat mengerikan. Setelah itu saya lebih baik untuk menepi jika ada suara klakson. Daripada terjadi hal yang tidak diinginkan.

BikeVenture, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Karawang, Indramayu, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Atas: Buah Kersen atau Orang Jawa mengenalnya dengan sebutan Talok.
Bawah: Es krim.
Cemilan pilihan untuk menyejukkan dahaga di Jalur Pantura.

Jalur Pantura menurut saya membosankan. Berbeda dengan jalur selatan yang menyajikan pemandangan Gunung Ciremai. Di Jalur Pantura, supir kendaraan untuk fokus dalam berkendara. Jalur yang lurus memang memancing untuk memacuk kendaraan. Berdasarkan data pemetaan lokasi rawan kecelakaan Jalur Pantura dari Korps Lalu Lintas Polri, Karawang, Subang, dan Indramayu merupakan titik merah. Semua disebabkan oleh jalan sempit dan bergelombang; sarana prasarana jalan kurang ditambah lagi kendaraan yang dipacu melebihi kecepatan aman yaitu 60-80 km/jam.

Memasuki Indramayu pukul 14.00 WIB, perjalanan di jalur “neraka” ini berhenti sejenak. Makan siang untuk mengisi tenaga untuk mencapai Kota Indramayu. Saya berhenti salah satu warung makan di Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu. Kota Indramayu masih berjarak 48 km. Masih tersisa waktu tiga jam sebelum malam tiba. Tak berlama-lama, sayur asem, ayam goreng, sambal, dan es kelapa saya santap habis. Segera melanjutkan perjalanan.

Pemandangan kali ini cukup menghibur. Suara deburan ombak laut terdengar. Bau asin mulai dapat dihirup. Walaupun sebelumnya di warung makan saya saya singgahi, airnya telah asin. Air laut berwarna kecoklatan. Kemudi sepeda saya belokkan setelah sebuah jembatan di daerah Kecamatan Eretan, Indramayu untuk sekedar menikmati suasana. Meneduhkan diri sejenak sebelum melanjutkan jalur “neraka”. Di pinggir laut, berjajar bambu-bambu yang berbentuk meja. Ternyata untuk menjemur ikan asin. Ah waktu terus berlanjut. Kembali memasuki jalan yang seperti sirkuit balap bagi para supir bis.

Lalu lintas yang mengerikan ini masih sama sejak memasuki Cikampek. Kecepatan selalu menjadi nomor satu. Mungkin urusan keselamatan entah menjadi nomor kesekian. Matahari perlahan mulai turun. Jam tangan menunjukkan pukul 17.30 WIB. Setengah jam lagi harus sudah masuk Kota Indramayu. Sedangkan saya baru berada di Kecamatan Losarang, Indramayu. Masih sekitar 25 km untuk menuju tempat persinggahan malam ini. Perlu dua jam lagi waktu yang dibutuhkan. Pilihan yang ada hanya menginap di Kecamatan Loh Bener, Indramayu atau meminta bantuan pengendara motor untuk mempercepat laju sepeda.

Saya terjebak di pilihan yang sangat sulit ini. Target Kota Indramayu harus dicapai. Namun jika diteruskan bersepeda, akan sangat berbahaya. Akhirnya saya dengan berat hati harus memilih pilihan kedua. Saya harus memutuskan dengan penuh perhitungan. Bukan saya tidak mampu, tapi keselamatan harus menjadi hal pertama yang dijunjung dalam setiap kegiatan. Pilihan saya ini akhirnya tepat. Saya berhasil mencapai Indramayu pukul 18.15 WIB. Terima kasih ya Allah SWT. Persinggahan malam ini adalah di Sekretariat Mapala Wira Lodra. Organisasi pencinta alam di Universitas Indramayu. Sungguh pengalaman gila pertama menggunakan sepeda di Jalur Pantura. Sangat mendebarkan!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s