Bersepeda Depok – Surabaya: Etape 1 Depok – Karawang

Menjelajah Indonesia bukan melulu mengenai keindahan tempat wisata. Namun bagaimana melatih kepekaan terhadap kondisi sosial budaya yang kita datangi atau lewati. Realita sosial yang kita lihat, dengar, dan rasakan sepanjang jalan dapat dijadikan kita lebih bijak dalam menjalani hidup. Saya memilih menjelajah dengan cara bersepeda.

BikeVenture, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Karawang, Cikarang, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Jalur perkiraan Etape 1 berdasarkan Google Maps. Depok – Cileungsi – Kali Malang – Tambun – Cibitung – Cikarang – Karawang. Sumber: Google Maps.

Bersepeda adalah salah cara murah untuk berpindah ke sebuah tempat. Selain murah, juga dapat membuat sehat jasmani. Namun jika memilih untuk berpergian jauh, sudah semestinya dipersiapkan sebelum berangkat. Hal-hal itu seperti kesiapan sepeda, fisik, rencana perjalanan, medis, dan hal-hal pendukung lainnya.

Kali ini saya mencoba menguji ketahanan diri. Apalagi perjalanan ini saya lakoni sendiri. Semua harus dilakukan sendiri. Apapun masalahnya harus dipecahkan sendiri. Perencanaan, pelaksanaan hingga nanti pasca kegiatan dibuat sendiri. Inilah tantangan yang sangat menarik untuk dihadapi.

Perjalanan ini saya akan menuju Surabaya, Jawa Timur dari Depok, Jawa Barat. Target jarak tempuh yang harus saya pecahkan adalah 1000 km. Perjalanan ini dimulai dari 31 Desember 2014 dan ditargetkan tiba di Surabaya tanggal 17 Januari 2015. Selain bersepeda dan berwisata, saya juga mengamati keadaan sosial budaya dari dekat. Soe Hok-Gie berpetuah dan menjadi nilai organisasi Mapala UI yaitu “…patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya.Itulah nilai yang saya pegang teguh sampai saat ini dan melatarbelakangi perjalanan ini.

BikeVenture, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Karawang, Cikarang, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Memasuki Cibitung. Sampai di perbatasan Tambun – Cibitung pukul 08.30 WIB.

Etape 1 berawal dari Depok. Hari ini (31/12/2014), saya berangkat pukul 06.00 WIB dari rumah saya di bilangan Sawangan, Depok. Udara segar mengantar saya meninggalkan tempat ternyaman bagi saya. Aspal Jalan Raya Sawangan juga ikut mengantarkan saya hingga roda sepeda memasuki Jalan Raya Margonda dan berbelok di Jalan Raya Juanda. Ah agak berat juga meninggalkan orang tua saya di rumah. Namun ini adalah pilihan saya. Mereka pun mengerti.

Jalan Juanda menguji saya untuk pertama kalinya. Medan menanjak. Dua jembatan di mana Sungai Ciliwung mengalir telah terlewati. Setelah melewati ujian pertama, Jalan Raya Bogor terlihat. Saya menyeberanginya. Jalan Tol Cijago berada di sebelah kanan saya. Saya akan menuju arah Cileungsi. Sebelumnya akan bertemu dengan Cibubur Junction. Medan banyak yang datar. Keuntungan untuk mengistirahatkan kaki.

Setang sepeda berbelok ke arah Kranggan. Di perjalanan, saya bertemu dengan pesepeda lainnya. Sebuah jempol diacungkan ke arah saya dan berkata “hati-hati mas.” sambil berlalu. Kepedulian yang indah. Pedal terus dikayuh. Di tembok-tembok banyak coretan yang bertuliskan Ujung Aspal Pondok Gede. Saya berpikir sudah memasuki daerah Pondok Gede. Tetiba di sebuah pertigaan, saya teringat dengan jalan ini. Ya, kemarin baru saja saya lewati. Ini menuju Jatiwaringin.

Sinar matahari terhalang awan menyebabkan hangatnya pagi tak terasa di kulit. Lalu lintas mulai padat. Mungkin banyak yang bekerja di hari terakhir tahun 2014 ini. Saya hanya dapat tersenyum karena masih diberi kesempatan untuk bepergian. Perempatan Jalan Raya Kali Malang tiba. Kalau lurus, akan mengarah ke Klender. Ke kiri ke arah Cawang. Sudah pasti saya berbelok ke kiri menuju Bekasi.

Jalan Kali Malang sungguh membosankan. Terlalu panjang bagi saya. Di sebelah kan, aliran coklat Inspeksi Kali Malang mendampingi roda yang berputar. Mall Metropolitan terlihat. Tandanya sudah masuk Kota Bekasi. Jalan masih lurus. Ah tak ada habisnya. Hingga saya sampai di perbatasan Tambun dan Cibitung pukul 08.30 WIB. Saya beristirahat dan juga mendokumentasikan perjalanan. Nasib berpergian sendiri adalah kurangnya foto saya. Namun sepeda yang akan menjadi teman selama setengah bulan lebih ini sudah mewakili.

Pabrik-pabrik mulai banyak di kiri jalan Cibitung. Cukup banyak polusi yang dihasilkan. Belum lagi asap truk milik pabrik yang bongkar muat. Limbah pabrik juga tidak jelas dibuang kemana. Saya tak melihat jelas jenis pabrik yang ada. Hanya melengos saja sambil meneruskan perjalanan. Cukup sebal saya dibuatnya. Lebih baik terus mengayuh.

BikeVenture, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Karawang, Cikarang, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Memasuki Cikarang. Pukul 12.00 WIB, Cikarang diguyur hujan deras sehingga menunda perjalanan sampai 4 jam.

Pukul 10.00 WIB, saya merasa senang. Akhirnya saya bertemu kehidupan. Saya telah memasuki Cikarang. Walaupun masih heran karena di mana-mana tertuliskan nama “Bekasi” . Ternyata saya perjuangan meninggalkan Bekasi belum usai. Dua jam lagi pukul 12.00 WIB yang mana adalah waktu istirahat makan siang. Saya putuskan untuk mampir ke tempat saudara di daerah Desa Sukatani, Cikarang. Sekedar meluruskan kaki dan mengisi ulang persediaan air mineral saya yang sudah mulai habis.

Pukul 11.30 WIB saya sampai. Sudah lama juga saya tidak berkunjung. Sepupu sudah mulai tumbuh besar. Saya disambut dengan jus mangga. Sungguh segar. Namun kesegaran itu tak lama. Hujan turun dengan deras. Itu berarti perjalanan saya akan tertunda. Benar saja, hujan lama tak berhenti. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menerobos hujan yang sudah mulai reda. Namun di balik tertundanya perjalanan, saya dapat makan siang gratis dan dapat tidur siang. Lumayan.

Perjalanan dilanjutkan di tengah hujan rintik-rintik. Namun terlihat sisa-sisa hujan deras yaitu tergenangnya jalan. Saya melipir ke sebelah kanan jalan untuk menghindari jalan yang berlubang. Target sore ini adalah tiba di Universitas Singaperbangsa Karawang untuk menginap di sekretariat Mapalaska. Menurut google maps, jarak dari Desa Sukatani ke kampus tersebut berkisar 26 KM. Dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam, jarak tersebut dapat ditempuh dalam waktu 1.5 jam.

BikeVenture, Adventure, 50 Tahun Mapala UI, Mapala UI, Roadtrip, SoloTrip, Traveling, Jakarta, Surabaya, Karawang, Cikarang, Bikepacker, Jawa Barat, Visit Jawa Barat, Indonesia, 1000 KM

Memasuki Kabupaten Karawang. Dari titik ini, perjalanan menuju Universitas Singaperbangsa Karawang masih 1.5 jam.

Pukul 17.00 WIB, setelah melewati jembatan yang mana Sungai Citarum mengalir di bawahnya, saya mencapai perbatasan Cikarang – Karawang. Kini benar bahwa saya telah meninggalkan Kabupaten Bekasi. Saya berfoto sejenak. Selamat datang Kabupaten Karawang. Kemudian, saya bertemu sebuah perempatan besar di mana kemacetan terjadi cukup parah. Hampir empat kali lampu merah, saya dibuat menunggu. Di lampu merah itu, saya bertanya untuk memastikan tujuan saya ke salah satu pengendara, “Pak, Unsika (Universitas Singaperbangsa Karawang) di mana ya?” . Pengendara mobil itu dengan sigap menjawab, “Di lampu merah ketiga, kamu belok kanan. Nanti tanya lagi.Berbarengan dengan jawaban tersebut, lampu hijau menyala dan saya lanjut mengayuh. Setelah lampu merah yang membosankan itu, jalan relatif lancar.

Kemudi sepeda berbelok menuju Masjid Agung Karawang. Geliat tahun baru menyelimuti Karawang. Suara terompet berkumandang di setiap jalan. Mobil-mobil dan motor-motor menjejali jalan-jalan. Semua nampak memiliki rencana masing-masing menghabiskan malam pergantian tahun. Begitu juga dengan saya yang memiliki rencana bersepeda Jakarta – Surabaya. Saya terus menelusuri kabupaten yang dalam Bahasa Sunda berarti “penuh dengan lubang“.

Magrib pun tiba. Masih tersisa jarak 1.5 km menyusuri Jalan H.S Ronggowaluyo, Teluk Jambe, Karawang. Saya segera memburu agar tak terlalu malam. Sempat bingung karena rute yang dilalui seperti daerah perumahan dengan jalan yang hanya dapat dilewati dua kendaraan. Namun harapan datang. Di sebelah kanan saya telah nampak Kampus UNSIKA. Ternyata itu kampus dua. Kampus satu masih depan.

Sebuah papan panjat berdiri dengan gagah. Saya simpulkan ini adalah kampus satu yang mana akan saya singgah di Sekretariat Mapalaska untuk beristirahat.Sekretariatnya ada di belakang masjid” jawab satpam kampus ketika saya tanyakan lokasi Sekretariat Mapalaska. Segera meluncur saya sambil mengatakan “terima kasih pak” . Sempat terkejut dia ketika mengetahui saya mengayuh dari Depok.

Malam tahun baru ini saya isi dengan bercengkerama dengan para anggota Mapalaska. Selain itu saya juga mengabarkan posisi saya ke orang-orang tercinta. Malam tahun baru yang berbeda dengan biasanya. Apalagi dengan umur saya yang sudah menginjak usia perak. Selamat malam. Selamat tahun baru. Sampai bertemu lagi di tulisan tahun depan.

One thought on “Bersepeda Depok – Surabaya: Etape 1 Depok – Karawang

  1. wah gila bener dah sendiri menempuh 1000 Km, 18 hari, ternyata bikepacker juga toh, aku tunggu ceritamu selamat sampai Surabaya bro.
    Mampir kalo di surabaya, ane ITS bro, juga sering ngonthel kemana-mana, hahah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s