Menyisir Pantai Sejauh 12 KM, Dari Ngente Hingga Plengkung

Panas terik menyengat kepala. Kulit terbakar. Langkah terseok-seok. Ombak menggelegar menyapu pasir pantai. Pantai yang bukan sembarang pantai. Kami harus berhati-hati jika ingin kembali dengan selamat.

Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, BKP 13, Mapala UI, Adventure, Traveler, Susur Pantai, Pantai Plengkung, Wisata Pantai, Mountainering, Perjalanan Panjang, Indonesia, Visit Jawa Timur, Visit Indonesia

Penyusuran pantai menjelang senja.

Perjalanan membelah hutan tertua di Pulau Jawa telah usai. Namun bukan berarti berakhir sampai di sini. Kebahagiaan hanya nampak semu belaka. Kami harus tetap melanjutkan perjalanan menyusuri pantai sejauh 12 km untuk dapat keluar dari zona yang terisolasi ini. Pantai Ngente boleh dikatakan terletak di timur Pulau Jawa yang langsung berbatasan dengan ganasnya Samudera Hindia. Marabahaya acapkali menerpa kami.

Malam itu semua terlihat lelah. Tenda-tenda segera didirikan. Tempat peraduan siap dan satu persatu mulai lelap. Tak begitu dengan saya. Sebelum menyusuri pantai esok siang, saya memanjakan mata bersama para penerang malam. Indahnya. Tak saya pikirkan bagaimana siksaan penyusuran pantai di kala matahari sedang menunjukkan tajinya. Nikmati saja dahulu malam ini sebelum bersusah-susah esok hari.

Dewi malam telah lenyap ketika saya membuka mata. Berganti dengan hangatnya mentari. Pagi itu, Pantai Ngente terlihat amat cantik. Tak malu-malu ia tersenyum. Putih pasirnya bak buah bengkuang. Karang-karang pun masih dapat dijejaki. Hingga pada akhirnya nanti akan diselimuti Samudera Hindia. Secangkir kopi menemani pagi ini. Hanya kami yang beruntung dapat menikmati. Namun saya salah. Ternyata, siluet seorang laki-laki paruh baya muncul dari arah cahaya. Dia memikul sesuatu di pundaknya. Nampak makin jelas ketika mulai mendekat. Ternyata dia membawa ikan di dua buah keranjang dari rotan.

Pak, itu hasil tangkapan melaut?” tanya saya sambil melongok isi keranjang.

iya dek. Mau beli?” jawab laki-laki diiringi senyuman

Boleh pak. Berapaan pak? Loh tapi kok ini ada ikan hiunya?” ucap saya kebingungan.

Ini ikan kerapu 15 ribu sekilo. Paling isinya dua. Hiunya ketangkep dek. Gak sengaja.” kata laki-laki itu sambil merapikan ikannya.

Percakapan itu terus berlanjut hingga pada akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk membelinya dengan sisa uang ada di kantong. Lumayan untuk bakar-bakar ikan ala kulineran di pantai. Selain itu, juga untuk perbaikan gizi. Maklum delapan hari di hutan, tak ada satu hari pun menu makan dengan ikan. Padahal rencananya saya akan membawa ikan asar khas Ambon yang konon katanya masih dapat dimakan dalam waktu seminggu. Di pojok dekat muara sungai, saya bersama teman-teman membakar ikan yang telah kami beli. Tanpa bumbu, tanpa keahlian masak bak koki hotel bintang lima, ikan hasil olahan ala anak-anak pencinta alam ini rasanya gurih sekali. Lumayan makan ikan. Sehat. Biar pinter.” celoteh Bang Lelon, salah satu senior Mapala UI yang ikut dalam perjalanan ini.

Matahari mulai terik. Di balik pepohonan, nampak semua mulai merapikan kemah dan berkemas untuk meneruskan perjalanan. “Ayo packing, packing. Udah siaang ini. Mau jam berapa sampe Plengkung?” ucap Etang, calon anggota yang menjadi penanggung jawab teknis harian hari ke sembilan perjalanan panjang ini. Saya bersama para mentor tampak memperhatikan dari kejauhan. Kecepatan kami dalam mengemas kembali barang-barang jelas lebih cepat dibandingkan mereka. Makin lama, makin banyak hukumannya. “Tiap satu menit, tambah skot jam 5 kali ya.” kata Bang Agam, satu lagi senior Mapala UI yang ikut selain Bang Lelon. Urusan packing-packing ini akhirnya ditutup dengan lompat jongkok sebanyak 100 kali. Lumayan untuk pemanasan kalau menurut pencinta alam senior asal tanah Medan yang telah menjejakkan kaki di Puncak Carzstens ini.

Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, BKP 13, Mapala UI, Adventure, Traveler, Susur Pantai, Pantai Plengkung, Wisata Pantai, Mountainering, Perjalanan Panjang, Indonesia, Visit Jawa Timur, Visit Indonesia.

Tim Perjalanan Panjang TN Alas Purwo, Jawa Timur sebelum menyusuri pantai.

Rencana pergerakan terlambat 30 menit dari jadwal yang ditentukan pada pukul 09.00 WIB. Sebelum berangkat, lensa-lensa kamera dibidik untuk mengabadikan moment terakhir di hamparan pasir menguning Pantai Ngente ini. Semua perbekalan untuk jalan telah siap. Air bersih sisa hari ke delapan masih terdapat 30 botol untuk konsumsi 40 orang. Semua peserta harus menghemat air. Inilah dampak dari kesalahan riset logistik sebelum keberangkatan. Ditambah pula kondisi medan yang mudah membuat dehidrasi –gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh-. “Ayooo berangkat!! Tos dulu tapi.” ajak Etang untuk melakukan kebiasaan sebelum memulai kegiatan di Mapala UI. “Mapala UI..iiiiioooooooo!!teriak kami berusaha mengalahkan suara ombak, lalu bergegas memulai penyusuran pantai.

Ombak beriak-riak ganas. Kaki dilangkahkan menjauhi bibir pantai. Makin siang, air laut makin pasang. Kewaspadaan meningkat. Sang rawi turun ke bumi tanpa ragu. Terik sekali. Kehangatan pagi cepat berlalu. Suasana tetiba menjadi mencekam. Terdengar teriakan dari depan. Kala itu saya berada di urutan belakang. “Bang..bang. Ayo tolongin.. tolongin” teriak semua sambil berlarian ke arah Bang Lelon. Alumni program studi Ilmu Administrasi Niaga itu terjerembap terhempas ombak. Dengan sigap semua menolong agar tak tergulung gelombang bengis pantai selatan Jawa. “Tariik..tariik. Carriernya lepas dulu” komando Ridwan sambil berusaha menarik Bang Lelon. Semua panik dan khawatir. Untung pria yang baru berulang tahun pada tanggal 2 Februari 2014 ini baik-baik saja. Hanya sebuah kaca mata dan rain cover yang hanyut terbawa gulungan ombak. Mulai saat itu, semua diinstruksikan untuk lebih hati-hati dan menjauhi pantai.

Penyusuran pantai dilanjutkan. Semua berjalan di hutan pinggir pantai. Selain menjauhi ombak samudera, juga untuk menghindari panas surya yang membakar kulit. Namun konsekuensinya, jalur kadang tertutup. Satu jam berjalan, kami bertemu dengan para nelayan yang sedang duduk bersantai. Terlihat beberapa orang sedang memperbaiki jala.

Permisi pak. Numpang istirahat ya.” kata saya sembari menurunkan tas.

Silakan dek. Duduk aja. Abis dari mana?” kata seorang nelayan sambil mengisap rokok. “Dari Pantai Ngente pak. Kemarin abis 8 hari di hutan. Sekarang mau pulang. Ombaknya lagi gede ya pak?” jawab saya sambil menyalami satu persatu nelayan.

Iya dek. Hati-hati. Makanya kami gak nangkap ikan. Nunggu surut dulu.” ujar nelayan tadi.

Dari keterangan sang nelayan tersebut, laut sedang pasang dan sangat berbahaya jika berada dekat tepi pantai. Kami beristirahat hampir setengah jam lamanya. Di sudut lain, beberapa calon anggota asyik menyeruput kelapa yang diberikan oleh sang nelayan. Terima kasih pak. Mari.” ucap saya mengakhiri istirahat ini.

Udara makin beringsang. Payung-payung dikembangkan untuk menghalangi surya yang tegak lurus menghantam. Suasana makin panas ketika tim harus menyeberang muara sungai. Cukup besar alirannya. Namun semua dapat diakali tanpa menggunakan sistem penyeberangan seperti ketika menjelajahi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Tanpa sadar berjalan, saya bersama tim telah mencapai Pos Pandaan. Di pos ini berdiri beberapa gubuk yang tersebar di penjuru pos ini. Kepulan asap keluar gubuk yang nampak bobrok. Seorang laki-laki berumur sekitar 60 tahun menyambut kami dengan senyuman.

Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, BKP 13, Mapala UI, Adventure, Traveler, Susur Pantai, Pantai Plengkung, Wisata Pantai, Mountainering, Perjalanan Panjang, Indonesia, Visit Jawa Timur, Visit Indonesia.

Seorang nelayan yang berusia hampir 60 tahun  sedang menyulam jala yang rusak sambil menunggu air laut surut di Pos Pandaan.

Rombongan segini dari mana de?.” tanyanya keheranan.

Dari Pantai Ngente, Pak”  jawab Etang, si penanggung jawab teknis.

Silahkan kalau mau istirahat. Duduk-duduk aja. Santai.” jawabnya.

Makanan ringan segera dibuka untuk sekedar mengisi perut yang kosong. Minuman segar pun tak lupa direguk. Menikmati suasana pantai sambil mengobrol dengan si nelayan adalah cara terbaik mengenal Indonesia yang dikenal sebagai negara maritim. Tetiba sang nelayan menawarkan satu tusuk ikan hasil tangkapan yang telah diasapi. Cemilan kami bertambah. Ikan laut kering langsung dilahap.

Sampai Pos Pandaan, kami telah berjalan sejauh 6 km. Setengah perjalanan lagi akan sampai di Pantai Plengkung. Tak berlama-lama, perjalanan kami lanjutkan. Surya mulai berkurang keganasannya. Namun sang samudera tak urung demikian. Tetap saja ganas. Rombongan kembali terpisah. Yang berjalan cepat berada di depan, sementara kebalikannya berada di belakang. Saya tetap mengawasi jalannya para peserta. Tim sempat kesulitan untuk memilih jalur ketika dihadapkan dengan karang besar. Keputusan pun diambil. Ada yang melipir lewat karang, ada yang lewat hutan. Saya memilih melipir lewat karang karena air laut tak mencapai karang ketika kami sampai. Para nelayan juga berkata aman jika melipir melewati karang. Saat melewati karang, banyak kepiting-kepiting yang berseliweran. Sempat takut dicapit oleh kepiting-kepiting itu. Dibutuhkan 20 menit untuk meniti pinggiran karang hingga kemudian kembali menapaki pasir.

Berjalan di atas pasir pantai lama-lama menyulitkan kami. Selain itu memperlambat pergerakan. Saya berinovasi dengan berjalan di rumput laut yang tak tergenang. Derap langkah mulai lancar. Tak lagi terhisap pasir pantai. Yang lain mengikuti meniti rumput laut. Tanpa disadari, sang surya mulai condong ke barat. Hangatnya mulai terasa di kulit. Barisan mulai buyar. Terdengar kabar telah ada yang sampai di Pantai Plengkung. Sementara saya dan rombongan terakhir masih berjuang menuju Plengkung.

Angin berhembus membelai menemani perjalanan. Deburan ombak terbesik di telinga. Membentuk irama syahdu sebagai teman perjalanan. Sebuah tempat persinggahan berbentuk saung terlihat. Di atasnya berkibar bendera kebanggaan Indonesia. Kibarannya terlihat gagah. Saung tersebut menghadap langsung ke Pantai Plengkung. Tak berapa lama, akhirnya saya sampai di saung. “Sampe juga. Huuuh. Lumayan juga ye.” ujar saya sambil meletakkan tas di saung. Di sekitar saung, saya dikejutkan oleh keberadaan para monyet. Cukup agresif binatang itu. Menurut orang yang saya temui dekat Pantai Plengkung ketika baru sampai, kadang monyet-monyet ini suka mencuri makanan jika kita sembarangan meletakkannya. Monyet-monyet itu cukup besar badannya. Beberapa ukurannya kecil. Mungkin itu anak-anaknya. Monyet-monyet itu asyik sekali berkeliaran di pantai yang terkenal untuk olahraga selancar ini.

Surya semakin tenggelam. Penyusuran pantai ini telah berakhir. Kami semua kemudian bergerak menuju tempat pusat komunikasi Perjalanan Panjang TN. Alas Purwo berada. Tak jauh tempatnya. Kami berjalan sekitar 500 meter dari saung. Sebuah grandong -truk dengan menggunakan mesin penggilinan- terparkir di sudut pantai. Tampak tak pernah digunakan. Di sebelah kanan jalan, saya melewati resort yang biasa digunakan para wisatawan asing jika berselancar di sini. Di tengah perjalanan, saya yang kala itu berjalan sendiri di belakang, dikejutkan oleh seekor binatang berkaki empat dengan badan besar yang melintas. “Astagfirullah. Apaan itu?” gumam saya dalam hati sambil menghentikan langkah. Saya takut. Saya mengira itu adalah macan tutul hitam. Belakangan saya ketahui itu adalah babi. Bersyukur saya. Kemudian saya bergegas menuju persinggahan untuk malam ini.

Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, BKP 13, Mapala UI, Adventure, Traveler, Susur Pantai, Pantai Plengkung, Wisata Pantai, Mountainering, Perjalanan Panjang, Indonesia, Visit Jawa Timur, Visit Indonesia

Papan koordinat Pantai Plengkung.

Penyusuran pantai ini adalah perjalanan terjauh saya di pantai. Banyak pelajaran yang dapat dipetik melalui penyusuran pantai ini. Esok hari, saya akan kembali ke Pos Pancur. Bersiap untuk kegiatan selanjutnya. Bakti sosial dan pendokumentasian tempat wisata lainnya di TN Alas Purwo. Deburan ombak Samudera Hindia membuat saya terngiang-ngiang akan keseruan ini.

6 thoughts on “Menyisir Pantai Sejauh 12 KM, Dari Ngente Hingga Plengkung

  1. Catatan perjalanannya detil banget jadi bisa kebayang serunya jalan susur pantai kaya gini🙂
    Omong-omong itu “Jungle Taxi” nya bisa digunakan atau udah rusak?

    • Iyaaa lim. Seru banget! 2 kali susur pantai, ini yang tergokil.. Samudera Hindianya ganas.. Yang di Plengkung udah rusak lim. Cuma kalo kendaraan operasional warga di sekitar Alas Purwo rata2 pake Grandong.. Nanti gw tulis dehh.. ubek2 catetan dulu.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s