Susur Pantai di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

Langkah terasa berat berjalan di atas pasir yang terhampar. Sementara ombak Laut Samudera Hindia berlomba-lomba menuju pantai. Inilah pesona di selatan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

TWNC, Tambling Wildlife Nature Conservation, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Tommy Winata, Lampung, Vegetasi, Mapala UI, Pencinta Alam, Visit Lampung, Visit Indonesia, Traveler, Backpacker, Traveling, Susur Pantai, Wisata Pantai, Harimau Sumatra, Sumatran Tiger, Panthera Tigris

Ombak laut menggulung siap menarik siapapun yang berada di mulut laut.

Hujan perlahan berhenti menyapa tanah Sumatera. Suasana dingin selepas hujan masih menyelimuti hijaunya pepohonan di TWNC. Segera kami berpindah dari lembaga konservasi harimau, Rescue Centre Sumatran Tiger menuju Danau Menjukut. Saya bersama teman-teman kembali menaiki mobil patroli TWNC. Sebelumnya saya sempat mampir di Mercusuar Tambling. Cukup lama satu jam saya mampir ke sana. Mobil patroli selanjutnya akan mengantar kami sampai Danau Sleman. Selepasnya, saya harus menyeberang Danau Sleman sebelum menuju Danau Menjukut. Kami menyusuri garis pantai bersama para SGA (Security Group Artha) -pegawai sekuriti TWNC– dan pegawai konservasi TWNC.

Angin laut berhembus membelai mesra ketika menyusuri garis pantai. Dari atas mobil, terlihat ombak laut bergulung dengan ganas. Konon di laut ini, olahraga selancar atau yang dikenal dengan surfing dapat dilakukan. Di atas mobil, tawa-tawa menyeloroh dari setiap mulut. Di sepanjang pantai, vegetasi yang didominasi rotan (Calamus Sp.) rapat terlihat berantakan. Hampir tak ada yang rapi. Di sepanjang garis pantai, nipah (Nypa fruticans) dan cemara laut (Casuarina equisetifolia juga menghampar. Saya sempat bingung dengan buah nipah. Ternyata dulu IUCN (International Union for Conservation of Nature) sempat memasukkan tumbuhan ini ke dalam kategori tumbuhan langka.

Mobil-mobil mulai beriringan memasuki Pos Danau Sleman. Saya berganti moda transportasi menggunakan perahu. 20 menit menyeberang, kami kembali berjalan menyusuri pantai. Wahhh gila ini pantainya keren banget tapi sayang rada kotor” saya terkagum dan miris. “Itu sampah-sampahnya bawaan dari laut. Terus terdampar di sini. Ini jadi PR kita. jelas Darmo, sang pemandu kami. Langkah saya terasa berat. Pasir ini serasa memegangi kaki. Terkadang saya berjalan di atas tanah untuk menghindari lambatnya berjalan di atas pasir. Selain itu berjalan di tengah hutan, sedikit membuat panas matahari terhindar.

Sesekali di dalam hutan, Robert Pickles, peneliti Harimau Sumatera dari Panthera mengendus-endus bau kencing harimau di pohon. Dia turut menemani saya dan teman-teman menyusuri pantai. Dia sedang melakukan pendataan populasi Harimau Sumatera. Robert mengatakan bahwa sesekali harimau sumatera keluar dari hutan untuk mencari minum di muara sungai. Cukup mengerikan bagi saya. Tak terbayang jika saya bertemu langsung di hutan. Rasanya cukup sudah melihat harimau ketika di Rescue Centre Harimau Sumatera. Perjalanan berlanjut kembali ke pinggir pantai setelah keluar dari Pos Blambangan yang merupakan tempat pengawasan.

Sepanjang hampir tiga kilometer, kami menyusuri garis pantai. Selain sampah-sampah yang berada di pantai, ternyata masih ada hal yang menarik untuk diamati. Pantai Blambangan yang berada di selatan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ini ternyata juga merupakan tempat pendaratan penyu (Chelonioidea) dari Samudera Hindia. Di sini (kami) juga melakukan pengamatan penyu.” kata Darmo menambahkan. Telur-telur penyu tersebut dapat terlihat di beberapa titik Pantai Blambangan. Seketika saya ingin melihat fisik penyu itu langsung mendarat di pantai. Namun keinginan ini saya tanggalkan untuk situasi sekarang.

Suara-suara ombak yang memecah karang memenuhi telinga saya. Biru langit menjadi latar belakang pemandangan ini. Pasir berwarna krem menjadi pijakan kaki kami. Bagi pencinta fotografi, paduan lanskap karya sang Maha Kuasa ini menjadi objek yang sangat indah. Alat perekam gambar segera saya bidikkan untuk mengabadikan lanskap ini. Matahari mulai perlahan menuju timur. Langit berubah menjadi jingga membuat suasana makin romantis. Suasana romantis tersebut dibuyarkan oleh Darmo, pria asal Ambon yang menjadi guide kami. Saya melewati danau yang merupakan muara sungai. Ternyata muara sungai itu hidup binatang yang tergolong buas. Binatang itu buaya muara (Crocodylus porosus). Ah rupanya di balik keindahan itu, terselip buaya muara yang hidup tenang.

Menyusuri pantai sepanjang Tanjung Belimbing yang berada di selatan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Pantai yang bagi saya indah ini memiliki potensi wisata yang menarik jika dikelola dengan lebih baik lagi. Sampah-sampah yang berada di sepanjang pantai merupakan pekerjaan rumah bagi pihak taman nasional, masyarakat sekitar dan wisatawan yang berkunjung ke sini. Kebersihan kawasan wisata wajib hukumnya untuk kita jaga bersama. Minimal dengan tidak membuang sampah sembarangan dan membawa sampah kembali untuk dibuang ke tempatnya.

9 thoughts on “Susur Pantai di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

  1. Pingback: Menjejakkan Kaki di Mercusuar Tambling, Lampung | inisayadanhidupsaya

  2. Mungkin lebih baik buaya muara tetap hidup tenang di sana biar Pantai Blambangan nggak tambah kotor akibat turis nggak sadar lingkungan yang suatu hari nanti memadati kawasan tersebut yah hehe

  3. Pingback: 5 Tempat Wajib Dikunjungi di TWNC | inisayadanhidupsaya

  4. Pingback: Menyisir Pantai Sejauh 12 KM, Dari Ngente Hingga Plengkung | inisayadanhidupsaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s