Merayap Bak Cicak di Tebing Citatah 48

Kucuran keringat membasahi para wajah pemanjat saat siang hari di Tebing Citatah. Dua tangan tampak lincah mencari-cari kontur tebing yang cacat untuk menambatkan pegangan. Terlihat seperti cicak yang merayap di dinding.

Tebing Kapur, Tebing Karst, Mapala UI, Tebing Citatah 48, Panjat Tebing, Rock Climbing, Jawa Barat, Padalarang, Desa Cipatat, Kopassus, TNI, Visit Indonesia, Visit Jawa Barat

Tebing Citatah 48, Padalarang, Jawa Barat. Tebing Citatah 48 yang terletak di Desa Cipatat, Padalarang, Jawa Barat ini merupakan salah satu tempat favorit untuk memanjat.

Tebing Citatah kali ini menjadi tempat pendidikan anggota baru Mapala UI 2012. Ya, pendidikan ini termasuk ke dalam program BKP 2012 dan para calon anggota akan belajar merayap di tebing-tebing kapur kawasan Padalarang ini. Sabtu, Malam hari di tengah dingin yang menyergap, saya bersama para calon anggota lainnya sampai di Tebing Citatah. Setelah sempat tersasar dan cekcok dengan supir angkot di Stasiun Kiaracondong. Langsung saja kami dibriefing oleh para anggota Mapala UI lainnya untuk melakukan agenda esok hari.

Sebelum memulai pemanjatan, kami pun akan melengkapi logistik untuk konsumsi 6 hari ke depan. Dengan semangat yang masih menggebu-gebu, kami menuju pasar yang berada masih dekat Tebing Citatah. Setelah lengkap perbekalan untuk kegiatan kami, selanjutnya kami kembali ke tenda-tenda yang telah kami bangun. Sementara dari kejauhan, para anggota Mapala UI lainnya sudah terlihat merayap di tebing. Tak sabar rasanya untuk mencicipi tebing di kawasan karst ini. Namun sebelumnya kami akan diberikan materi kelas oleh para pemanjat professional di Indonesia seperti Adi Seno, Kang Mamay, dan Tedi Ixdiana.

Pagi hari yang berkabut menjadi awal kegiatan saya kali ini. Satu persatu penghuni tenda keluar dari peraduannya. Jam menunjukkan pukul 06.00 WIB. Saatnya sarapan dan olahraga pagi. Perut terasa kenyang dan siap untuk berlari memutar lapangan yang juga tempat berlatih para Kopassus. Perlahan rasa dingin pun hilang berganti dengan panas tubuh yang muncul akibat berlari. Naik turun bukit juga menjadi menu pagi ini. Cukup lelah tapi menyenangkan. Kadang keluhan keluar dari mulut. Maklum ketika itu masih calon anggota. Cepat merasa lelah.

Tebing Kapur, Tebing Karst, Mapala UI, Tebing Citatah 48, Panjat Tebing, Rock Climbing, Jawa Barat, Padalarang, Desa Cipatat, Kopassus, TNI, Visit Indonesia, Visit Jawa Barat

Lapangan di bawah Tebing Citatah 48. Lapangan ini merupakan tempat kegiatan perjalanan kedua BKP Mapala UI 2012.

Pukul 09.00 WIB, kami didaulat untuk berkumpul di kaki tebing. Dari tempat berkemah, kami harus berjalan naik bukit dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Para mentor telah bersiap untuk menurunkan ilmu panjat tebing pada kami. Sambil mempersiapkan alat-alat yang lainnya, kami diperkenalkan untuk memegang tebing. Antusias sekali wajah-wajah para calon anggota. Terlebih saya yang sangat ingin mencoba mendalami olahraga panjat tebing. Namun sebelumnya saya juga pernah menjajal tebing di Kelapa Nunggal, Cilengsi, Bogor. Seru dan menegangkan sekali ketika kombinasi gerakan dan tangan mencoba mengaitkan ke tebing.

Pemanjatan pertama ini tergolong jenis pemanjatan bouldering. Bouldering merupakan jenis pemanjatan tanpa menggunakan harness dan tali. Yo, ayo boulder. Pegangannya liat. Kakinya jangan kaya bebek, jinjit.” teriak Ridwan Hakim, salah satu mentor BKP 2012. Dahi sedikit mengernyit, peluh mulai bercucuran ketika berusaha “bermesraan” dengan tebing. Saya mencoba menarik kesimpulan sederhana bahwa memanjat adalah kegiatan yang membutuhkan semangat pantang menyerah. Persis seperti tagline pendidikan Mapala UI 2012 ini yaitu Mandiri, Berani, Pantang Menyerah, Kompak, dan Peduli.

Tebing Citatah mendadak ramai, enam jalur pemanjatan telah dibuat oleh para mentor. Terlihat pula senior-senior Mapala UI atau akrab disebut Toku datang dan ikut memanjat. Semangat yang terus muda terpancar dari mereka. Saya pun heran melihatnya. Terlihat lincah merayap bak cicak di dinding. Di sudut lain Tebing Citatah, kamera-kamera dengan telitinya membidik setiap gerakan para pemanjat. Selidik demi selidik ternyata mereka adalah wartawan yang meliput kegiatan pemanjatan ini. Mereka sangat lihai menggunakan alat-alat panjat untuk mendokumentasikan setiap momen yang ada.

Di kesempatan lain, saya akan mencoba memanjat hingga puncak tebing. Sebelumnya saya berlatih teknik-teknik pemanjatan lain. Belay on” teriak saya kepada Satria pertanda siap untuk memanjat. “On belay.” sahut Satria. Tangan saya mulai menari mencari cacat tebing untuk pegangan naik. Kaki juga tak kalah untuk menemukan pijakan. Salah satu pelajaran yang saya dapatkan adalah jangan terlalu mengandalkan tangan untuk naik. Gunakan kaki sebagai bantuan. Perlahan nafas mulai memburu. Saya mulai kelelahan. Namun saya harus tetap berada di tebing. Tak ada istilah untuk jatuh. Saya harus mengakhirinya di puncak tebing.

20 menit memanjat, saya berhasil mencapai pitch -bagian curam tebing- pertama di Tebing Citatah 48. Saya beristirahat sejenak untuk mengembalikan tenaga yang terkuras. Dari pitch ini, hamparan daerah Padalarang dan kawasan kapur dapat terlihat. Rumah-rumah terlihat kecil di kejauhan. Pertambangan kapur juga menjadi pemandangan ketika berada di pitch ini. Pemanjatan saya lanjutkan. 28 meter lagi jarak yang dibutuhkan untuk mencapai puncak tebing. Segenap tenaga saya kumpulkan untuk memulai kembali pemanjatan. “Belay on” teriak saya kembali kepada Satria. “On belay. Lanjut” sahut Satria. Menengok ke atas, jalur cukup tertutup pohon-pohon yang tumbuh. Saya menghela napas ketika memulai pemanjatan. Akankah saya dapat mencapai puncak? Itulah pertanyaan yang berkecamuk dalam hati.

10 meter memanjat, angin berhembus sangat kencang. Debu-debu berterbangan menerpa mata. Refleks kepala saya melihat ke bawah untuk menghindari debu.Wah tinggi banget. Mati nih kalo tali gw putus.” gumam saya dalam hati karena takut. Untuk ukuran calon anggota, tidak percaya pada alat pengaman adalah hal yang wajar. Namun perasaan itu saya buang jauh-jauh. Saya terus memanjat. Saya harus sampai puncak. Pegangan demi pegangan saya raih. Kaki mencari pijakan terbaik. Terkadang kaki dan bergetar tanpa kontrol. Tangan berkeringat membuat licin pegangan hingga saya kesulitan memanjat. Segera tangan meraih ke dalam chalkbag yang berisi bubuk Magnesium Carbonat (MgCo3 ) untuk mengurangi licin akibat keringat.

Puncak tebing sudah mulai terlihat. Semangat untuk meraih pisau komando di puncak semakin bergelora. Sisa-sisa tenaga saya kerahkan di tengah sengatan matahari. Akhirnya setelah melewati pohon yang tumbuh sebelum puncak, saya tiba di puncak tebing. Namun untuk mencapai pisau komando, saya harus berjalan sekitar 5 menit. Nafas ngos-ngosan. Matahari terus menyengat di atas kepala. Oksigen terasa sulit untuk masuk ke dalam paru-paru. Tak berapa lama, akhirnya saya bergabung dengan teman-teman lain yang sudah mencapai puncak melewati jalur pemanjatan lain. Pemandangan di atas sini sangat indah. Sejauh mata memandang, Kota Bandung dapat terlihat. Puas mengabadikan momen, saya dan teman-teman kembali ke bawah melewati jalur normal.

Tebing Citatah merupakan salah satu tempat favorit bagi para pemanjat sekitar DKI Jakarta dan Jawa Barat. Dengan karakteristik tebing dari batuan karst, cacat-cacat di tebing ini cukup menantang untuk dipanjat. Untuk mencapai tebing ini juga tidak terbilang sulit. Dari Jakarta cukup menaiki bis tujuan Bandung yang melewati Jalur Puncak dan turun di Tebing Citatah 48. Supir dan kernet bis sudah paham jika diinstruksikan seperti tersebut. Permasalahan yang terjadi di kawasan karst di sini adalah penambangan. Banyak tebing-tebing karst yang ditambang secara berlebihan. Namun untuk kawasan Citatah 48, mudah-mudahan tidak terkena penambangan. Hal ini karena tebing ini merupakan tempat latihan Kopassus dan berada di bawah pengawasan TNI. Mudah-mudahan generasi selanjutnya dapat merasakan serunya merayap bak cicak di Tebing Citatah.

 

7 thoughts on “Merayap Bak Cicak di Tebing Citatah 48

  1. Kalau soal panjat memanjat tebing, gw jadi keingat ama Cewek yang cepet banget manjat tebing nya… serius, udah kayak mencerminkan keberhasilan teori darwin aja dia.
    gw mah masih liat-liat dulu, takut kenapa-kenapa kalau cepat-cepat gitu.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s