Menjejakkan Kaki di Mercusuar Tambling, Lampung

Deburan ombak laut yang berwarna biru setia menemani menara yang tegak ini. Ya, siapa sangka menara ini merupakan saksi meletusnya Gunung Krakatau.

Mercusuar, Lampung, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Tambling Wildlife Nature Conservation, Situs Arkeologi, Traveling, Traveler, Backpacker, Visit Lampung, Visit Indonesia, Mapala UI, Interior, Ekspedisi, Raja Willem III, Belanda

View mercusuar dari lapangan terbang Tambling.

Warna hijau khas pepohonan di kawasan Tambling – Tampang Belimbing – Wildlife Nature Conservation (TWNC) menghampar luas sepanjang pantai di barat daya Pulau Sumatera. Di tengahnya nampak berdiri sebuah mercusuar yang menjulang tinggi. Tampak kokoh sejauh mata memandang dari Lapangan Terbang Tambling. Perjalanan ini serasa menjadi napak tilas keperkasaan Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 1883.

Mercusuar yang menjulang tinggi di pinggir Samudera Hindia ini terletak di dalam kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation. Tambling Wildlife Nature Conservation sendiri secara geografis termasuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Barat. Kawasan ini berada atau menjadi bagian Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Total area TWNC sendiri mencapai 45.000 hektar. Sementara TWNC dikelola oleh PT Adhiniaga Kreasi Nusa, anak perusahaan Group Artha Graha.

Mercusuar yang dibangun oleh Raja Belanda Willem III pada tahun 1879 ini membuat saya terkagum-kagum. Setelah hampir 135 tahun berdiri, mercusuar ini tetap berdiri tegak. Walaupun ternyata tidak berdiri tegak sepenuhnya. Ya, akibat meletusnya Gunung Krakatau pada 1883, tepat 4 tahun berdiri, mercusuar ini menjadi miring 17 derajat. “Mercusuar di Tambling sudah tidak difungsikan saat ini, kan udah maju komunikasi sekarang” kata Darmo, guide saya ketika di TWNC saat akan memasuki mercusuar.

Jantung saya cukup berdebar ketika akan menaiki mercusuar ini. Bagaimana tidak, saya akan memasuki bangunan yang dulu difungsikan sebagai pemberi peringatan kapal yang lalu lalang di sekitar Selat Sunda hingga Samudera Hindia dan sudah berdiri hampir 135 tahun. “Ini masih kuat gak ya kalo dinaikin ke atas?” pikir saya dalam hari. Kaki perlahan melangkah masuk ke kompleks mercusuar. Kalimat “Utamakan Keselamatan Pelayaran” yang terukir di pagar batu kompleks mercusuar menyambut saya dan rombongan. Memasuki kompleks mercusuar, rombongan disambut oleh seekor rusa liar yang sedang mencari makan. Benar-benar alam liar tapi terkelola dengan baik.

Sempat mata tercengang melihat kembali sang mercusuar. Karat tersebar di hampir seluruh bagian dalam mercusuar. Namun di bagian luar mercusuar masih tampak terawat.  Siapa sangka kalau bahan-bahan pembuat mercusuar langsung dibawa dari Belanda. Dr. Tawaluddin Haris, Dosen Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia pun menyatakan bahwa dahulu ketika pembangunan mercusuar di Indonesia, Pemerintah Hindia Belanda membawa bahan material dari negeri Belanda langsung menggunakan kapal laut. Beliau juga menambahkan bahwa Pemerintah Hindia Belanda sangat menyadari pentingnya mercusuar untuk memantau alur pelayaran dari dan ke Teluk Semangka dan ke Teluk Lampung bagi kapal-kapal dagang yang berlayar dari Samudera Hindia. Ah sempat berpikir sayang sekali situs arkeologis ini tidak terawat dengan baik. Padahal kebudayaan suatu negara dapat terlihat dari peninggalannya.

Langkah kaki mulai menaiki anak tangga yang sudah berkarat dengan hati-hati. Mercusuar ini mempunyai 17 lantai untuk mencapai puncaknya. Satu persatu lantai kami lampaui dengan hati-hati. Dahulu di beberapa lantai pada mercusuar digunakan sebagai ruang administrasi. Namun sekarang yang terlihat hanyalah karat di mana-mana. Jendela kacanya pun sudah banyak yang pecah. Agak miris ketika melihatnya. Beberapa menit berjalan, kaki terasa lelah. “Yuk Bil, liat-liat pemandangan dulu” ucap saya pada Nabila, teman perjalanan saya. “Ah gila keren bener pemandangannya..yuk foto-foto bil” ucap saya ketika menengok pemandangan luar dari jendela kaca mercusuar di lantai 10.

Perjalanan menapaki anak tangga mercusuar kembali bergulir. 15 menit melangkah di anak tangga yang berkarat, akhirnya saya mencapai puncak mercusuar. Di puncaknya terdapat lampu sorot yang digunakan untuk menerangi pinggir laut. Sampai saat ini lampu ini masih berfungsi dengan baik. Di luar bagian puncak mercusuar, suara ombak Samudera Hindia seakan memanggil kami keluar. Kaki pun melangkah ke bagian luar puncak mercusuar. Pemandangan yang sangat menakjubkan menyambut mata saya. Sejauh mata memandang, menghampar perpaduan warna biru, putih kekuning kuningan, dan hijau. Pemandangan Samudera Hindia dengan ombak yang ganas, pasir pantai, dan vegetasi di TWNC menjadi penyejuk tersendiri bagi saya.

Mercusuar, Lampung, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Tambling Wildlife Nature Conservation, Situs Arkeologi, Traveling, Traveler, Backpacker, Visit Lampung, Visit Indonesia, Mapala UI, Interior, Ekspedisi, Raja Willem III, Belanda

Tim perjalanan berfoto di luar mercusuar setelah menelusur situs arkeologi ini.

Angin cukup kencang bertiup di puncak mercusuar. Waktu saya habiskan dengan berfoto ria dan bercengkrama dengan teman-teman di atas. Sempat terpikir bagaimana jika tidak ada mercusuar ini. Karang-karang berwarna hitam yang siap membuat kapal karam terlihat jelas dari puncak mercusuar.   “Ayo yuk turun, kita lanjut lagi wisatanya ke tempat lain” ucap Dharmo, pria kelahiran Ambon ini kepada kami. Waktu cepat bergulir, sementara penjelajahan di TWNC ini masih harus berlanjut. Setelah ini saya akan menyusuri pantai menuju Danau Menjukut.

16 thoughts on “Menjejakkan Kaki di Mercusuar Tambling, Lampung

  1. Pingback: Auuumm! Ada Harimau Sumatra di TWNC | inisayadanhidupsaya

  2. Pingback: 5 Tempat Wajib Dikunjungi di TWNC | inisayadanhidupsaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s