Mandi Bareng di Wailatu, Mau?

Aliran air jernih dari perbukitan di Desa Tulehu ini serasa memanggil untuk mandi. Terlihat segar. Laki-laki dan perempuan menggunakan aliran ini untuk mandi. “Sebenarnya mandinya dipisah, laki-laki di atas, perempuan di bawah” ujar Pak Gani sambil tersenyum.

Pemandian Wailatu, Desa Tulehu, Backpacker, Traveler, Traveling, Visit Maluku, Baronda Maluku, Jalan-Jalan Murah, Maluku Tengah, Visit Indonesia, Indonesia, Wisata Alam,

Pemandian Umum Wailatu di Desa Tulehu, Maluku Tengah ini sangat terkenal dengan birunya air yang mengalir. Pemandian ini ramai pada sore hari.

Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah menyimpan banyak keunikan yang mengundang rasa ingin tahu saya. Sore hari umumnya masyarakat Ambon keluar untuk sekedar berjalan-jalan, membeli cemilan untuk teh sore hingga bercengkrama dengan tetangga. Melewati perkampungan yang tertata rapi, meja-meja di depan rumah yang menyajikan gorengan, senyum ramah para pemuda-pemudi Ambon yang berada di sekitar jalan Wailatu yang jalannya cukup bagus, saya melangkah ke sebuah kolam pemandian umum. Berbeda dengan kolam pemandian air panas Hatuasa tapi saya kembali tercengang melihatnya.

Ya, kolam pemandian umum ini bernama Wailatu. Terlihat anak kecil, tua, muda, laki-laki dan wanita memanfaatkan kolam pemandian umum ini. Keceriaan anak-anak Ambon yang bermain air menambah sore ini makin bahagia. Terbesit rasa ingin kembali ke masa kecil, di mana dapat bermain lepas. Di sisi lain kolam, ibu-ibu dan remaja perempuan, berkumpul dengan kegiatan khas kaum hawa. Ya, mencuci pakaian di aliran kolam pemandian. “Pagi dan sore biasa dipake nyuci baju. Warga Desa Tulehu yang biasa nyuci di sini. “ tegas Pak Gani, warga yang tinggal di sebelah kolam pemandian. Memang terlihat sangat disayangkan aliran air yang jernih ini digunakan untuk mencuci.

Pemandian Wailatu, Desa Tulehu, Backpacker, Traveler, Traveling, Visit Maluku, Baronda Maluku, Jalan-Jalan Murah, Maluku Tengah, Visit Indonesia, Indonesia, Wisata Alam,

Perempuan di sisi lain Wailatu terlihat sedang mencuci pakaian. Pemandian Wailatu selain untuk mandi juga digunakan untuk mencuci pakaian oleh Masyarakat Desa Tulehu dan sekitarnya.

Wailatu sendiri berasal dari Bahasa Ambon yakni Wai adalah air dan Latu adalah raja. Konon sejarahnya dahulu kala kolam pemandian ini adalah tempat pemandian para raja Ambon. Berdasarkan legenda yang diceritakan oleh Ai, seorang teman asli Ambon, kolam pemandian ini mempunyai cerita menarik.

Alkisah dahulu kala putri raja Tulehu ingin pergi mandi tapi sayangnya di daerah Tulehu tidak terdapat air. Keadaan itu terus menerus terjadi. Sampai suatu saat sang putri sedang berada di Kendari lalu dia menemukan air yang jernih. Sang putri raja ingin membawa air tersebut ke Tulehu. Akhirnya sang putri membawa air tersebut menggunakan kendi yang berbahan emas. Dibawanya tiga kendi tersebut dan dikubur di daerah Halawang, yang sekarang bernama Wahlawang. Bak mukjizat, air yang dikubur itu mengalir deras ke permukaan dan jadilah Wailatu.

Warga Desa Tulehu sudah biasa mandi bersama-sama di Wailatu. Menggosok badan dengan sabun, keramas hingga sikat gigi menggunakan air ini. Tidak ada kelihatan rasa segan walaupun suasana kolamnya ramai. Sesama warga pun berbicara dan bersenda gurau sambil mandi. Saya pun tak ketinggalan mencoba mandi bareng di kolam pemandiaan ini. Warna biru jernih air mengalir ke kolam yang di ujungnya terdapat banyak pohon sagu tumbuh. Kolam pemandian ini terdapat tiga bagian dengan kedalaman yang berbeda. Jika dilihat dari jembatan, bagian yang dekat hulunya adalah tempat yang terdangkal. Saya memilih mandi di dekat hulu. Cara mandi anak muda di sini pun cukup unik. Setelah badan disabuni dan keramas, untuk membilasnya anak muda di sini bukan mengguyur badan dengan gayung tapi mereka berenang dari sisi satu ke sisi yang lain. Memang kolam ini cukup besar, panjangnya mencapai 40 meter dengan lebarnya 10 meter. Cukup besar untuk digunakan berenang.

Kolam pemandian yang berada di tempat kelahiran pemain sepak bola Indonesia, Alfin Tuasalamony ini juga masih ada hal yang unik lagi. Selain dapat mandi bareng di air yang biru jernih ini, sobat traveler juga dapat melihat ikan sidat atau yang umum orang kenal dengan belut. Entah sejak kapan ikan sidat ini mulai hidup di pemandian ini. Dari saya belum lahir, kata bapak saya itu ikan juga sudah ada dik” kata Pak Gani yang berusia 60 tahun ini kepada saya.

Untuk mengakses pemandian ini, sobat traveler dapat menggunakan angkot dari Terminal Mahardika dengan tujuan Tulehu, Waai, Liang atau Darussalam. Dengan membayar Rp 7.000 (umum) dan Rp 5.000 (pelajar dan mahasiswa) untuk biaya angkot, sobat traveler akan menempuh jarak sekitar 25 km. Sepanjang jalan sobat traveler akan disajikan pemandangan Teluk Ambon dan juga Pantai Natsepa yang juga terkenal akan rujaknya. Jangan lupa minta diturunkan di Wailatu. Dari sana sobat traveler cukup berjalan kaki ke dalam sekitar 10 menit atau dapat menggunakan jasa ojek dengan biaya Rp 3.000. Jadi masih berpikir mandi bareng gak?

Tips

  1. Siapkan peralatan mandi
  2. Jika membawa kendaraan bermotor, parkirlah dengan rapi dan jangan tinggalkan helm di motor
  3. Datanglah pada siang hari karena sore hari akan ramai dengan anak-anak kecil yang bermain
  4. Bersikap sopan dengan warga lokal Desa Tulehu
  5. Jangan buang sampah sembarangan
  6. Jika tidak membawa alat mandi, ada warung di sebelah Wailatu (milik Pak Gani)

6 thoughts on “Mandi Bareng di Wailatu, Mau?

  1. Indah ya! Di Indonesia bagian timur sana air sungainya masih bersih banget jadi bisa mandi bareng. Lah di Bandung… *no offense* bang wahyu ikut nyebur atau ngintip perawan desa nya aja nih?😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s