Jejak Langkah di Gunung Sindoro

Gunung Sindoro, Temanggung, Wonosobo, Hiking, Mountaneering, Mountaineer, Traveling, Traveler, Bakpacker, Wisata Alam, Gunung Sumbing, Visit Indonesia, Visit Jawa Tengah

Gunung Sindoro yang agak tertutup awan terlihat dari jalur pendakian.

Liburan panjang hampir tiba, waktu yang tepat untuk menjelajah keindahan alam di Indonesia. Banyak tempat yang dapat dikunjungi untuk melepas penat. Mengutip pernyataan seorang penyair sufi legendaris, Rumi, “Travel brings power and love back into your life” , traveling dapat membawa kekuatan dan cinta ke dalam hidup seseorang. Salah satu kegiatan traveling yang dapat dinikmati sobat traveler adalah mendaki gunung. Mendaki gunung atau yang sering disebut hiking dapat dilakukan secara berkelompok bersama teman-teman maupun keluarga tercinta.

Sebuah kesempatan berharga yang saya dapatkan untuk mendaki gunung ini beberapa bulan lalu tak saya sia-siakan. Berawal dari kegagalan untuk mendaki Gunung Argopuro yang ternyata sedang ditutup bulan Januari lalu karena cuaca tidak memungkinkan untuk mendaki. Dengan persiapan perjalanan yang cukup matang, saya bersama dengan beberapa anggota Mapala UI berangkat menuju Semarang menggunakan kereta api Matarmaja jurusan Malang. Siang hari di Stasiun Pasar Senin selalu ramai dengan calon penumpang yang mempunyai tujuan masing-masing. Kereta saya berangkat tanpa terlambat beberapa menit pun melaju mulus di atas rel. Di dalam kereta yang berkelas ekonomi ini, suasana selalu ramai tapi teratur karena peraturan dari PT. KAI yang membatasi penumpang sesuai jumlah kursi di kereta. “Kopi mas..kopi.. pop mie panasnya” teriak pedagang kopi. Begitulah kereta selalu ramai dengan para pedagang, ciri khas yang saya senangi dari kereta ekonomi. Senja berganti malam dan pemandangan di luar kereta berganti dengan cahaya lampu yang berkelip. Akhirnya kereta memasuki St. Semarang Poncol dan saya bergegas untuk turun untuk menuju sekretariat pecinta alam Universitas Diponegoro, Wapeala untuk beristirahat dan menyiapkan logistik untuk pendakian.

Dari Sekretariat Wapeala, perjalanan menuju basecamp pendakian di Gunung Sindoro masih memakan waktu perjalanan sekitar empat jam menggunakan bis jurusan Wonosobo. Pagi-pagi sekali kami segera berangkat menuju basecamp Gunung Sindoro. Pagi yang cerah di kota Semarang mengantarkan kami berangkat menuju tujuan kami selanjutnya. Teman-teman Wapeala mengantar kami hingga naik bus. Bis-bis dengan berbagai tujuan berjajar, sementara para kondekturnya sigap menawarkan kami untuk naik. “Yoo mas, arep munggah gunung merapi opo Sumbing-Sindoro?” tanya kondektur pada saya dengan bahasa Jawa yang kental. “arep neng Sindoro mas, piroan tiketnya?” jawab saya dan menanyakan harga tiketnya. “20.000 ribu mas, ayo mas” jawab kondektur. Tanpa pikir lama kami langsung menaikkan tas ke atas bus. Sekali lagi pengalaman jika traveling menggunakan kendaraan umum, sobat traveler dapat belajar banyak tentang kehidupan. Berbagai latar belakang para penumpang naik tanpa diskriminasi di dalam bus. Dan berbagai obrolan dapat dilakukan dengan penumpang di sebelah. Kali ini saya berbincang dengan para calon polisi dan banyak bertukar pikiran mengenai pendidikan dasar kepolisian. Sangat seru dan menyenangkan.

Selamat Datang di Wonosobo

Bus mulai meliuk-liuk mengikuti kontur jalan yang berbelok-belok. Kiri-kanan jalan telah berubah dari pemandangan tandus menjadi hijau dipenuhi kebun-kebun teh. Ditambah pula dengan hujan yang turun di membuat suasana makin dingin. “Wonosobo..Wonosobo..persiapan Kledung” teriak kondektur bus mengingatkan para penumpang. “mas, arep munggah Sindoro kan? tangi mas. wis arep tekan” sambil membangunkan saya yang tertidur lelap. Bergegas kami bersiap untuk turun di tengah hujan deras di Wonosobo. Sang supir bus mulai memperlambat jalannya bus hingga akhirnya berhenti. Jam menunjukkan pukul 15.00, hujan yang deras tak menghalangi kami melangkah. Jas hujan kami kenakan dan lanjut berjalan di tengah hujan menuju base camp pendakian Gunung Sindoro.

Gunung Sindoro, Temanggung, Wonosobo, Hiking, Mountaneering, Mountaineer, Traveling, Traveler, Bakpacker, Wisata Alam, Gunung Sumbing, Visit Indonesia, Visit Jawa Tengah

Sebelum mulai mendaki, hujan telah turun dan tim segera memakai jas hujan.

Gunung Sindara, atau dikenal Sindoro atau Sundoro adalah gunung berapi aktif yang terletak di kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo. Gunung ini bersebelahan dengan Gunung Sumbing yang terletak di kabupaten Magelang. Gunung yang memiliki ketinggian 3.150 meter di atas permukaan laut ini, memiliki rute pendakian gunung ini bisa dilewati melalui desa Kledung – Temanggung maupun melalui kecamatan Ngadirejo – Temanggung. Di base camp pendakian Gunung Sindoro rupanya telah ramai dengan para pendaki lain. Terlihat hampir 20 orang bersiap mendaki gunung ini. Di base camp ini kami mengurus perizinan dan melengkapi barang-barang yang akan kami bawa naik. Untuk perizinan dikenakan biaya Rp 3.000 per orang dan diharuskan menulis biodata di buku tamu. Satu buah KTP juga ditinggalkan sebagai jaminan. “Tolong jangan turun ke kawah ya mas, kemarin abis ada yang meninggal karena menghirup gas di kawah” himbau bapak petugas kepada kami. Memang beberapa saat lalu, tersiar kabar bahwa ada pendaki yang meninggal karena menghirup gas di kawah. Kami pun menuruti himbauan bapak itu. Sementara di luar masih hujan deras, kami disuguhkan air putih hangat oleh sang empu rumah dan sedikit bercengkrama dengan pendaki lain. Suasana hangat terasa di rumah yang tidak begitu besar ini.

Gunung Sindoro, Temanggung, Wonosobo, Hiking, Mountaneering, Mountaineer, Traveling, Traveler, Bakpacker, Wisata Alam, Gunung Sumbing, Visit Indonesia, Visit Jawa Tengah, Peta Gunung Sindoro

Ini merupakan peta pendakian Gunung Sindoro yang diberikan ketika berada di base camp. Sumber: Google

Hujan mulai reda dan kami mulai berjalan meninggalkan base camp. Tak lama berjalan, kami disambut oleh ladang-ladang milik warga. Warna hijau dan ladang yang tersusun rapi membuat mata kami melihat ke kiri-kanan. Gunung Sindoro di ujung mata serasa dekat walaupun faktanya masih jauh. Menengok ke belakang, Gunung Sumbing berdiri dengan gagahnya. Perjalanan menuju pos 1 yang berketinggian 1.900 mdpl. Jalan semakin menanjak ketika melewati batas ladang dengan hutan. Jalan yang berbatu berganti dengan jalan tanah yang gembur karena hujan. Pohon-pohon khas hutan mulai kami lewati. Senja mulai datang di tanah Wonosobo, langit tertutup awan hitam karena hujan. Sementara saya dan teman-teman mulai terpisah karena salah satu dari anggota tim mengeluhkan kaki yang sakit. Adzan maghrib pun berkumandang, saya dan beberapa teman yang berada di depan memutuskan untuk berhenti dan menyiapkan minuman hangat beserta makanan ringan. “Wah gile ye ujannya, kaga berhenti. Kasian tuh si Riko. Yuk bikinin teh anget” bincang saya kepada Fajri dan Fadhli. Hampir setengah jam kemudian, tampak juga teman saya yang bernama Riko dan tiga orang yang lain. Segera kami bergabung dan menikmati teh hangat lalu bersiap kembali berjalan.

Perjalanan dilanjutkan dan nafas kami mulai terengah-engah. Mungkin karena hujan yang turun dengan derasnya. Setelah menuruni lembah yang cukup licin dan kembali menuju punggungan utama, kami sampai di pos satu pukul 8 malam. Cukup lebar untuk mendirikan tenda tapi target kami adalah pos tiga untuk bermalam. Sekedar meluruskan kaki, kami beristirahat dan melegakan dahaga di tenggorokan. “Ayooo lanjut yook, biar gak kemaleman” ajak saya untuk lanjut berjalan. Beruntung hujan mulai berhenti di malam ini sehingga memudahkan perjalanan. Namun pada akhirnya setelah Riko berjalan tertatih-tatih, kami menghentikan langkah untuk segera mendirikan tenda. Malam yang dingin ini diakhiri dengan tidur yang lelap.

Gunung Sindoro, Temanggung, Wonosobo, Hiking, Mountaneering, Mountaineer, Traveling, Traveler, Bakpacker, Wisata Alam, Gunung Sumbing, Visit Indonesia, Visit Jawa Tengah

Sesaat setelah hujan, tim menyempatkan berfoto dengan latar Gunung Sumbing.

Tertipu oleh Puncak Bayangan

Sinar mentari perlahan menampakkan mengganti bulan. Sosok yang hangat mulai menyelimuti badan. Burung-burung pun berkicau mengingatkan kami agar segera menyantap makan pagi. Sepiring ayam goreng dan panasnya sup menjadi awal energi pagi ini. Ditambah dengan sereal agar kami cukup energi menuju puncak. Target hari ini adalah puncak Gunung Sindoro. Segera membereskan kemah, beberapa pendaki yang semalam kami mengobrol di pos 1 melewati kami dan ingin menuju puncak. Hayoo mas Sindoro yoo. Jadi nge-camp di pos tiga mas?” sapa pendaki tersebut. “yoo Sindoro mas. oh ini pos tiga  ya?” tanya saya dengan heran. “iya mas ini pos tiga , memang gak ada petunjuknya sih ya” jawab dia dengan tersenyum. “oalahh ternyata kita udah di pos tiga, maleem ye gak keliatan emang jalannya” sambil kami tertawa.

Perjalanan kami lanjutkan dari pos tiga menuju pos empat. Sudah hampir terlihat puncak Sindoro dari jalur yang kami lewati. Di sebelah kanan jalur terhampar hutan lamtoro dan sudah tidak ada tutupan hutan jadi panasnya matahari langsung menyengat. Berbeda jika berada di perjalanan pos satu hingga pos tiga yang masih tertutup kanopi. Jalur semakin menanjak, Riko mulai mengeluh kakinya kembali sakit. Terpaksa kami memperlambat kecepatan berjalan. “Puncak udah keliatan nihh ko, yoook lanjut kejar” ucap semua kepada Riko memberikan semangat. Hampir tiga kali kami tertipu oleh puncak bayangan. Kami kira sudah tiba di puncak tapi ternyata bukan. Hanya dataran yang cukup lebar. Hujan kembali turun di leher Gunung Sindoro tapi kali ini ditambah dengan angin. Hujan ini cukup menguras stamina hingga pada akhirnya kami memutuskan untuk menuju puncak tanpa tas. Kami berhenti dan membentangkan selembar flysheet untuk berteduh. Teh dan kopi hangat beserta makanan ringan menjadi makan siang kami. Waktu memang sudah menunjukkan pukul 12.00, waktu makan siang kami.

Gunung Sindoro, Temanggung, Wonosobo, Hiking, Mountaneering, Mountaineer, Traveling, Traveler, Bakpacker, Wisata Alam, Gunung Sumbing, Visit Indonesia, Visit Jawa Tengah

Tim saat berada di pos tiga Gunung Sindoro. Cuaca setiap hari selalu diguyur hujan.

Selepas makan siang, kami langsung menuju puncak Sindoro. Dengan jas hujan tapi tanpa carrier, kami berjalan di tengah hujan. Batu-batu menjadi licin karena hujan. Kami pun harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Tanjakan curam kembali menghadang kami dan jarak pandang semakin berkurang. “Semangat yoo Sindoro yooo” teriak saya di tengah hujan. Kalimat “yoo Sindoro yoo” dikutip dari seorang pendaki asal Cilacap yang menegur kami di jalur dengan aksen Jawa. Lucu dan teringat selalu. “Rock awas Rock” teriak Fajri ketika ada sebuah batu besar yang menggelinding. Tim yang berada di bawah segera lompat ke pinggir jalur menghindari batu tersebut. Tak terbayang jika batu itu menimpa kami. Sudah pasti patah tulang kami alami. Summit Attack serasa lebih menegangkan dibandingkan dengan pendakian Gunung Ciremai pada tahun baru 2012 lalu dan Gunung Pangrango. Namun menurut saya lebih berat pendakian Gunung Salak yang membuka jalur dari Sukamantri ketika itu.

Akhirnya kami mencapai puncak Sindoro dengan tertutup oleh awan. Kawah Sindoro sama sekali tidak terlihat. Pemandangan lepas pun tidak dapat kita nikmati. Gunung Sumbing yang besar pun tidak terlihat. Hanya pohon-pohon kecil melatari kami di puncak. Kami menyempatkan berfoto walaupun cuaca buruk. Dengan berhati-hati kamera yang telah terbungkus plastik, kami keluarkan. Perayaan kecil dengan memakan sari kelapa dan wafer kami lakukan. Sekedar menghibur telah mencapai puncak di tengah hujan juga disapu oleh angin. Tak berlama-lama kami turun untuk segera bergabung dengan Uta dan Riko yang menjaga kemah.

Perjalanan turun kami sore ini diputuskan untuk kembali menginap di pos tiga karena masih ada logistik dan mengistirahatkan kaki Riko yang sakit. Beruntung hujan berhenti dan saya dapat mengabadikan beberapa foto pemandangan dari Gunung Sindoro.  Malam berlalu dan pagi hari kami bergegas untuk merapat ke Yogyakarta. Pendakian Gunung Sindoro ini menyisakan kenangan yang menakjubkan. Tertipu oleh puncak bayangan dan diterpa hujan setiap hari. Dan juga foto yang dihasilkan tidak banyak karena hujan terus menerus.

21 thoughts on “Jejak Langkah di Gunung Sindoro

  1. ane naik sindoronya lewat desa sikatok, perkebunan teh. langsung tancap gas dari kebun teh sampek puncak.. sengaja carik jalur terdekat ke puncak… tenaganya udah habis nanjak di sumbing

  2. Josss salam lestari… dan salam sak indahe dari pendaki semarang .. aku terharu jikalau baca cerita nanjak nanjal kaya gini sususssuip lanjutkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s