Mengintip Pembuatan Perahu Phinisi di Tanah Beru, Bulukumba Sulawesi Selatan

Perahu Phinisi, Kawasan Industri Kapal Rakyat, Bulukumba, Bonto Bahari, Tanah Beru, Sulawesi Selatan, Makassar, Kapal Asli Indonesia, Kapal Indonesia

Salah satu jenis perahu phinisi yang digunakan untuk pelayaran perdagangan sumber: Google

Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah laut yang sangat luas. Bahkan hampir  82 % dari luas wilayahnya adalah laut. Sejak jaman kerajaan dulu, Indonesia sudah dikenal sebagai negara maritim yang kuat melalui kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dan juga kerajaan-kerajaan di tanah Sulawesi yang merupakan tanah kelahiran para pelaut ulung. Sejak jaman kekuasaan Belanda di bawah pimpinan Spellman, dia menjuluki pelaut Makassar sebagai “Si Bajak Laut“. Pelaut-pelaut Makassar menjadi bajak laut bagi Belanda (VOC) beserta koloni-koloninya yang merupakan musuh-musuh mereka, sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap ketidakadilan. Pelaut Makassar juga berlayar dalam misi kemerdekaan dan kesejahteraan mereka. Bagi mereka laut adalah sumber penghidupan dan kesejahteraan. Pernyataan ini terbukti dengan adanya perdagangan-perdagangan yang dilakukan oleh pelaut Makassar ke Maluku untuk berdagang rempah-rempah, ke Samudera Hindia hingga ke Daratan Australia. Dengan predikat sebagai Bandar Dagang  Internasional, Pelabuhan Makassar sangat ramai dengan rempah-rempah dari Afrika. Mereka berlayar dengan menggunakan berbagai jenis perahu yang mana perahu Phinisi sangat terkenal sering digunakan oleh para pelaut Makassar.

Perahu phinisi termasuk alat transportasi laut tradisional masyarakat Bugis yang terkenal sejak berabad-abad yang lalu. Menurut cerita di dalam naskah Lontarak  I Babad La Lagaligo, Perahu Pinisi sudah ada sekitar abad ke-14 M. Menurut  naskah tersebut, Perahu Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putra  Mahkota Kerajaan Luwu. Bahan untuk membuat perahu tersebut diambil dari pohon welengreng (pohon dewata) yang terkenal sangat kokoh dan tidak mudah rapuh. Namun, sebelum  pohon itu ditebang, terlebih dahulu dilaksanakan upacara khusus agar  penunggunya bersedia pindah ke pohon lainnya. Sawerigading membuat perahu tersebut  untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang  bernama We Cudai.

Perahu Phinisi, Kawasan Industri Kapal Rakyat, Bulukumba, Bonto Bahari, Tanah Beru, Sulawesi Selatan, Makassar, Kapal Asli Indonesia, Kapal Indonesia

Entry Point Kawasan Industri Kapal Rakyat, Bonto Bahari, Tanah Beru Sulawesi Selatan

Perahu Phinisi, Kawasan Industri Kapal Rakyat, Bulukumba, Bonto Bahari, Tanah Beru, Sulawesi Selatan, Makassar, Kapal Asli Indonesia, Kapal Indonesia

Perahu phinisi yang sedang dalam pengerjaan di Kawasan Industri Kapal Rakyat Bonto Bahari, Tanah Beru Bulukumba Sulawesi Selatan

Perahu Phinisi, Perahu Tradisional,Kawasan Industri Kapal Rakyat, Bulukumba, Bonto Bahari, Tanah Beru, Sulawesi Selatan, Makassar, Kapal Asli Indonesia, Kapal Indonesia, Pengrajin Perahu Phinisi

Para pengrajin perahu di Kawasan Industri Kapal Rakyat sedang mengerjakan interior di dalam perahu.

Perjalanan kali ini saya menyempatkan untuk datang ke Kawasan Industri Kapal Rakyat di Tanah Beru, Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Sebenarnya tempat pembuatan perahu phinisi ini banyak di Sulawesi Selatan tetapi yang paling terkenal pembuatannya adalah di Tanah Beru, Bulukumba. Tana Beru sebagai Pusat Kerajinan Perahu Pinisi terletak sekitar 176 kilometer dari Kota Makassar atau 23 kilometer dari Kota Bulukumba. Perjalanan dari Kota Bulukumba ke Tana Beru dapat ditempuh dengan menggunakan mobil pribadi maupun angkutan umum. Saya menuju ke sana menggunakan pete-pete (angkot) dari Kota Bulukumba menuju Tanah Beru dengan ongkos yang cukup murah sebesar Rp 5000. Ketika memasuki kawasan pembuatan kapal rakyat tersebut, saya disambut dengan kemegahan kapal-kapal yang sedang dibuat oleh para pengrajin perahu. Perahu-perahu tersebut sedang dirakit oleh orang-orang asli Tanah Beru yang terkenal akan pengetahuannya dalam membuat perahu. Pemandangan para pengrajin perahu phinisi di pinggir pantai ini menggugah semangat saya untuk berlayar mengelilingi dunia.

“Teringat lagu ciptaan Ibu Sud yang berjudul “Pelaut” yang berlirik “Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudera, menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa, angin bertiup layar terkembang, ombak berdebur di tepi pantai, pemuda berani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai.”

Perahu Phinisi, Kawasan Industri Kapal Rakyat, Bulukumba, Bonto Bahari, Tanah Beru, Sulawesi Selatan, Makassar, Kapal Asli Indonesia, Kapal Indonesia, Pengrajin Perahu Phinisi

Pak Caraba sang pengrajin perahu phinisi dan juga telah berpengalaman dalam pelayaran perahu phinisi

Perahu Phinisi, Perahu Tradisional, Kawasan Industri Kapal Rakyat, Bulukumba, Bonto Bahari, Tanah Beru, Sulawesi Selatan, Makassar, Kapal Asli Indonesia, Kapal Indonesia

Para pengrajin perahu phinisi di Kawasan Industri Kapal Rakyat Bonto Bahari Tanah Beru Bulukumba Sulawesi Selatan sedang memasang mesin untuk perahu phinisi. Perahu Phinisi ini akan digunakan untuk berdagang.

Perahu Phinisi, Perahu Tradisional, Kawasan Industri Kapal Rakyat, Bulukumba, Bonto Bahari, Tanah Beru, Sulawesi Selatan, Makassar, Kapal Asli Indonesia, Kapal Indonesia

Pengrajin perahu phinisi tampak sedang menghaluskan badan perahu dengan gerinda di tengah siang hari.

Di Kawasan Industri Kapal Rakyat Tanah Beru, saya mendatangi salah satu perahu phinisi yang sedang dibuat di pinggir pantai. Di sana terdapat beberapa orang yang mengerjakan perahu dengan semangatnya. Saya mengobrol dengan salah satu pengrajin perahu phinisi yang bernama Pak Caraba. Pak Caraba adalah pria kelahiran Bonto Bahari Tanah Beru, Bulukumba dan berusia 40 tahun dan sudah banyak makan asam garam di dunia pelayaran dengan perahu phinisi. Pak Caraba mengatakan berlayar sejak umur 12 tahun dan selama 14 tahun menjadi kapten dalam pelayaran dengan phinisi, pernah berlayar hingga Aceh dan paling sering berlayar ke Irian Jaya. Tenggelam pun sudah sering dia alami di tengah perjalanan pelayarannya. Pak Caraba berlayar dengan phinisi lebih ke arah pelayaran perdagangan. Dalam berdagang menggunakan phinisi, dia sering membawa barang-barang kelontong untuk diperjualbelikan. Perdagangan menggunakan perahu phinisi menuntut perahu berbahan dasar kayu yang bagus. Menurut Pak Caraba, perahu phinisi umumnya menggunakan kayu Mane dan kayu jati. Kayu-kayu tersebut didapatkan dari daerah Kendari, Sulawesi Tenggara. Saat ini pembuatan perahu phinisi ramai oleh pasar asing yang memesan di Kawasan Industri Kapal Rakyat Tanah Beru. Negara yang memesan perahu phinisi berasal dari Thailand, Australia dan Cina. Dikarenakan bahan baku untuk pembuatan perahu phinisi saat ini mahal, pemesan dari konsumen lokal sangat jarang. Negara-negara asing yang memesan juga rata-rata menggunakan perahu phinisi dengan tambahan mesin sebagai daya geraknya.

Perahu phinisi merupakan salah satu sejarah maritim Indonesia yang harus dilestarikan agar generasi masa depan masih dapat mengenalnya. Saya merasa beruntung sekali dapat melihat langsung tempat pembuatan perahu phinisi yang sangat terkenal itu. Bagi sobat traveller yang ingin mengunjungi Kawasan Industri Perahu Phinisi di Tanah Beru, Bulukumba, tidak perlu khawatir dengan biaya masuk karena tidak akan dikenakan biaya masuk. Di samping itu orang-orang di sana sangat ramah sekali, saya pun betah berlama-lama di sana. Namun karena mereka harus bekerja untuk membuat perahu maka saya pun harus mengakhiri perjalanan ini.

3 thoughts on “Mengintip Pembuatan Perahu Phinisi di Tanah Beru, Bulukumba Sulawesi Selatan

  1. Keren! Saya malah pernah baca referensi yang bilang kalau dulu pelaut asing nyebut pelaut Bugis dengan nama boogieman (Bugis Man) karena ketakutan mereka sama pelaut Bugis, Belum baca referensi lain sih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s